Cari

Pakar

Katalis Merah Putih: Ikhtiar Ilmuwan ITB Memerdekakan Energi Bangsa dan Menaklukkan Dunia


Katalis Merah Putih: Ikhtiar Ilmuwan ITB Memerdekakan Energi Bangsa dan Menaklukkan Dunia

Schoolmedia News BANDUNG – Di sebuah sudut laboratorium yang tenang di Institut Teknologi Bandung (ITB), sebuah revolusi energi diam-diam berkecambah selama lebih dari empat dekade. Bukan melalui hiruk-pikuk demonstrasi di jalanan, melainkan lewat ketekunan di depan tabung reaksi dan reaktor kimia. Inilah kisah "Katalis Merah Putih", sebuah mahakarya sains yang kini membawa nama ilmuwan Indonesia berkibar di panggung teknologi global, mengubah hamparan kelapa sawit menjadi bahan bakar pesawat, dan mewujudkan impian kedaulatan energi yang selama ini kerap dianggap mustahil.

Akar Perjuangan: Lebih dari Sekadar Tugas Akhir

Perjalanan panjang ini dimulai jauh pada tahun 1982. Namun, momentum krusial terjadi ketika tiga serangkai peneliti dari Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis (TRKK) ITB—Prof. Dr. Ir. Subagjo, Prof. Dr. Ir. I.G.B. Ngurah Makertihartha, dan Dr. Ir. Melia Laniwati Gunawan—memutuskan untuk mewakafkan fokus penelitian mereka pada pengembangan katalis nasional.

Bagi mereka, katalis bukan sekadar zat kimia yang mempercepat reaksi. Katalis adalah "otak" dari industri kimia. Bayangkan, sekitar 90 persen industri kimia di dunia bergantung pada zat ini. Namun, selama berpuluh-puluh tahun, Indonesia hampir 100 persen bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan katalis di kilang-kilang minyaknya. Ketergantungan ini bukan hanya soal ekonomi, tapi soal harga diri dan keamanan energi bangsa.

"Kami ingin karya mahasiswa tidak berhenti di rak perpustakaan sebagai tugas akhir. Harus bisa dimanfaatkan bangsa, masuk ke industri, dan memerdekakan kita dari impor," kenang Dr. Melia Laniwati dalam sebuah kesempatan di Bandung. Komitmen inilah yang kemudian melahirkan nama "Katalis Merah Putih"—sebuah identitas yang menegaskan bahwa seluruh resep, prosedur, hingga proses produksinya murni hasil pemikiran anak bangsa.

2005-2017: Menembus Dinding Skeptisisme Kilang

Memasuki tahun 2005, tantangan nyata datang. Prof. Subagjo dan tim mulai bekerja sama dengan tim RnD Pertamina untuk mengembangkan katalis Naphtha Hydrotreating (NHT). Mengembangkan katalis di laboratorium adalah satu hal, namun membuktikannya di reaktor raksasa dengan tekanan dan suhu ekstrem di kilang adalah hal lain.

Skeptisisme tentu ada. Industri minyak dan gas dikenal sebagai industri yang sangat berisiko tinggi (high risk). Namun, ketekunan membuahkan hasil. Pada 2011, setelah serangkaian uji coba, katalis hasil karya ITB ini berhasil melewati ujian di reaktor komersial Pertamina berkapasitas 6 meter kubik. Sejak saat itu, penggunaan Katalis Merah Putih meledak. Lebih dari 200 ton katalis telah diproduksi dan digunakan di delapan reaktor di lima kilang Pertamina di seluruh Indonesia.

Keberhasilan ini menjadi pesan kuat bagi dunia: ilmuwan Indonesia mampu menciptakan teknologi inti yang selama ini dikuasai perusahaan-perusahaan multinasional dari negara maju.

Lompatan Besar: Emas Hijau Menjadi Bahan Bakar Langit

Tidak puas hanya bermain di bahan bakar fosil, tim TRKK ITB melihat potensi besar dari "Emas Hijau" Indonesia: Kelapa Sawit. Sejak 2012, kolaborasi dengan Research and Technology Innovation (RTI) Pertamina semakin intensif untuk mengonversi minyak inti sawit menjadi diesel biohidrokarbon dan bioavtur.

Puncaknya terjadi pada periode 2018-2021. Di bawah bimbingan para profesor senior dan energi dari peneliti muda seperti Dr. Ir. Carolus Borromeus Rasrendra, inovasi ini melesat. Pada Juli 2020, Kilang Dumai berhasil memproduksi bahan bakar diesel 100 persen dari sawit, yang dikenal sebagai D100, menggunakan Katalis Merah Putih.

Dunia pun menoleh ketika pada 6 Oktober 2021, pesawat CN-235 milik PT Dirgantara Indonesia berhasil mengangkasa dengan bahan bakar bioavtur J2.4 (campuran 2,4 persen bahan bakar nabati sawit). Uji terbang ini bukan sekadar seremoni; ini adalah bukti sah bahwa katalis buatan Bandung mampu menghasilkan bahan bakar standar penerbangan internasional yang ramah lingkungan. Indonesia tidak lagi sekadar mengekspor minyak sawit mentah (CPO), tapi mulai mengekspor teknologi nilai tambah tinggi.

Meniup Peluit Kedaulatan: Lahirnya Pabrik Katalis Nasional

Perjalanan Katalis Merah Putih mencapai titik balik sejarah saat isu ini sampai ke telinga Presiden Joko Widodo. Pada Rakornas Kemenristek/BRIN Januari 2020, Prof. Subagjo berdiri di depan Presiden dan dengan lugas menyatakan: Indonesia butuh pabrik katalis nasional untuk berdaulat.

Merespons aspirasi tersebut, Presiden Jokowi memberikan dukungan penuh dengan menetapkan pembangunan pabrik katalis sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Kolaborasi lintas sektor pun terbentuk antara ITB melalui PT Rekacipta Inovasi ITB, PT Pertamina, dan PT Pupuk Kujang. Mereka mendirikan perusahaan patungan bernama PT Katalis Sinergi Indonesia (PT KSI).

Berlokasi di Kawasan Industri Kujang Cikampek, pabrik ini menjadi monumen hidup kemandirian teknologi Indonesia. Pada 30 Oktober 2023, pabrik tersebut resmi beroperasi, dan pada 1 Desember 2023, penjualan perdana sebanyak 11 ton katalis NHT dilakukan untuk menyuplai kilang Pertamina Balikpapan.

Bensin Sawit (Bensa): Masa Depan Energi Terbarukan

Inovasi tak pernah mengenal kata usai. Saat ini, tim Katalis Merah Putih sedang mengembangkan "Bensa" atau Bensin Sawit. Hasilnya mencengangkan. Uji coba pada kendaraan bermotor untuk rute Bogor-Medan sejauh 2.000 kilometer menunjukkan hasil yang sempurna tanpa kendala mesin.

Hebatnya lagi, bensin sawit ini memiliki angka oktan (RON) mencapai 110, jauh melampaui bensin komersial kasta tertinggi sekalipun. Inilah yang disebut sebagai green fuel murni—sebuah solusi nyata bagi pengurangan emisi karbon dan pemanfaatan sumber daya alam lokal secara maksimal.

Mengharumkan Nama Bangsa di Panggung Dunia

Kini, para ilmuwan di balik Katalis Merah Putih tidak lagi hanya dipandang sebagai akademisi di balik meja. Mereka adalah arsitek energi masa depan. Penghargaan Adibrata yang diterima Prof. Subagjo pada 2018 hanyalah satu dari sekian banyak pengakuan atas dedikasi mereka.

Katalis Merah Putih telah membuktikan bahwa dengan kolaborasi yang apik antara akademisi (ITB), industri (Pertamina & Pupuk Kujang), dan pemerintah, Indonesia mampu berdiri sejajar dengan negara-negara produsen teknologi kimia dunia.

"Kami ingin Indonesia berdaulat," adalah kalimat yang sering diucapkan para peneliti di Lab TRKK ITB. Dan lewat butiran-butiran kecil katalis berwarna hitam atau abu-abu itu, impian tersebut kini mulai nyata. Katalis Merah Putih bukan sekadar penemuan sains; ia adalah simbol perlawanan terhadap ketergantungan asing dan bukti nyata bahwa kecerdasan ilmuwan Indonesia kini semakin berkibar, menggerakkan mesin-mesin industri, dan menerbangkan pesawat-pesawat di langit dunia dengan semangat kemandirian.

Dari Bandung untuk Indonesia, dari Indonesia untuk dunia. Katalis Merah Putih adalah saksi bahwa Merah Putih tidak hanya berkibar di tiang bendera, tapi juga berdenyut di dalam setiap reaktor energi bangsa.

Tim Schoolmedia 

Tokoh Sebelumnya
Kisah Rif’an Bisa Kuliah di UGM hingga S3 di Belanda Meski Hadapi Keterbatasan Ekonomi

Tokoh Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar