
Schoolmedia News Jakarta = Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) merayakan Hari Pendidikan Tinggi Teknik (HPTT) ke-80 dengan menggelar Rapat Senat Terbuka, di SGLC, Jumat (13/2).
Dekan FT UGM, Prof. Ir. Selo, Ph.D., menyampaikan bahwa transformasi Fakultas Teknik tidak hanya bertumpu pada implementasi riset, tetapi juga pada penguatan ketahanan institusi serta relevansinya terhadap kebutuhan industri dan masyarakat.
Sinergi tersebut diwujudkan melalui pengembangan co-working space, komitmen keberlanjutan berbasis zero waste, termasuk pembagian tumbler kepada mahasiswa baru, serta penguatan jejaring alumni melalui Career Summit dan KATGAMA Talk Series. Kerja sama internasional juga terus diperluas sebagai bagian dari strategi peningkatan daya saing global.
Ia menegaskan bahwa Fakultas Teknik memiliki konsekuensi sistemik dalam membangun budaya akademik yang berkelanjutan. âTiap sivitas menyadari bahwa ketidakberaturan lahir dari ketidakpedulian. Ekosistem harus bergerak bukan karena keterpaksaan aturan, melainkan karena kesadaran bersama,â ungkapnya.
Lebih lanjut, Selo menyampaikan bahwa Fakultas terus mengembangkan upaya intelektual agar perjalanan delapan dekade tidak berhenti sebagai perayaan seremonial. Ia menguatkan bahwa fakultas ini dituntun menjadi pondasi kontribusi bagi bangsa. Sebagai bagian dari dokumentasi perjalanan tersebut, Fakultas Teknik meluncurkan sejumlah publikasi yang merekam praktik, gagasan, dan capaian keberlanjutan di lingkungan kampus.
Selo menjabarkan peluncuran tiga buku, yakni Harmoni di Lorong Ilmu: Potret Keberlanjutan di Kampus Fakultas Teknik UGM, Cerita di Balik Dinding Hijau Kampus Teknik, serta Modul Pelatihan Pengelolaan Sampah. Ketiga buku tersebut merekam berbagai program, praktik baik, serta capaian Fakultas Teknik dalam membangun ekosistem akademik yang berkelanjutan.
Rangkaian puncak perayaan HPTT ke-80, dilanjutkan dengan orasi Sharlini Eriza Putri, Direktur Econexus.ai yang mengangkat tema AI, Entropi, dan, Peradaban.
Menurutnya, kemajuan teknologi yang semakin pesat membuat bumi mulai tergerus dan sumber daya perlahan menghilang. Kecerdasan buatan (AI) yang sudah meluas dan menjadi keseharian masyarakat disinyalir membutuhkan pasokan energi yang besar sejalan dengan penggunaannya.
Ia melanjutkan dengan menegaskan upaya bertahan hidup justru mengarah pada strategi yang melemahkan kemampuan manusia untuk bertahan. Krisis yang kini hadir bukan sekadar konflik manusia dengan alam, tetapi juga internal peradaban manusia melawan realitas yang diciptakan sendiri.
âKita sebagai generasi muda penting menggunakan AI dengan bijak. Misal fokus ke memahami rahasia alam tentang hal-hal magnificent atau kearifan lokal. Bisa juga dengan mengurangi curhat atau mengerjakan tugas kuliah mengandalkan AI,â tegasnya.
Tinggalkan Komentar