
Schoolmedia News Jogyakarta = Pengusaha transportasi angkutan darat sekaligus Direktur PT Eka Sari Lorena Group, Eka Sari Lorena Soerbakti, dan Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof. Abdul Rohman, mendapat Anugerah Universitas Gadjah Mada. Penghargaan diberikan oleh Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof Ova Emilia, di sela perayaan Puncak Dies Natalis UGM ke-76, di Grha Sabha Pramana.
Eka Sari Lorena Soerbakti mendapatkan penghargaan atas kontribusinya dalam pengembangan kewirausahaan di kalangan mahasiswa UGM melalui program UGM Preneur sejak 2022. Sedangkan Abdul Rohman mendapatkan penghargaan atas kontribusinya dalam bidang pengembangan riset kehalalan produk.
Kepada wartawan, Eka Sari Lorena menyampaikan rasa senang dan bangga dapat berkontribusi dalam mendorong penguatan kewirausahaan di lingkungan UGM yang tidak hanya sebatas pengembangan konsep, tetapi juga diwujudkan melalui praktik nyata melalui program UGM Preneur.
Ia menilai, keterlibatan perguruan tinggi dalam penguatan mindset kewirausahaan merupakan langkah strategis dalam upaya menyiapkan generasi muda yang mampu bertahan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. âUGM memiliki visi yang luar biasa, tidak hanya berbicara soal Tridharma, tetapi juga menjalankannya melalui inovasi dan kolaborasi,â ujarnya.
Ia menyampaikan, kerja sama antara Fakultas Teknologi pertanian UGM dengan Bawa Indonesia Global (BIG) telah meluncurkan program UGM Preneur mulai dirintis pada 2022 pasca pandemi COVID-19 sebagai bentuk kolaborasi antara kampus dan industri dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan sebagai fondasi keberlangsungan. Adanya krisis global tersebut membuka kesadarannya akan kerentanan masyarakat di tengah sektor pangan yang tidak stabil.
Ia menceritakan program ini awalnya melibatkan tiga fakultas dan kini telah berkembang dengan melibatkan lebih dari 15 fakultas di lingkungan UGM. Ia memandang kolaborasinya dengan FTP UGM sebagai salah satu langkah strategi dalam mendorong kemandirian bangsa melalui penguatan sektor pangan berbasis inovasi dalam kewirausahaan. âSaya belajar dari COVID. Waktu COVID saya melihat kalau kita boleh punya apa pun, tapi kalau pangan kita itu tidak memadai, susah sekali hidup ini,â terangnya.
Menjawab tantangan kewirausahaan di tengah masifnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), ia menekankan pentingnya pola pikir yang tidak mudah dikendalikan oleh AI. Menurutnya, AI digunakan sebagai alat bantu dalam mendukung kapasitas kerja sebagai kewirausahaan, bukan sebagai pengganti peran manusia seutuhnya.
Ia menilai, perlunya menunjukkan keunggulan utama yang dimiliki entrepreneur yang tidak dimiliki oleh AI, seperti empati, kemampuan membangun relasi, dan memahami konteks sosial masyarakat. Oleh sebab itu, ia mendorong pelaku usaha dalam mengembangkan kapasitas diri serta memperkaya pengetahuan. Sehingga dapat memanfaatkan AI secara bijak di tengah percepatan teknologi saat ini. âKita harus tahu bagaimana mempergunakan AI supaya kita tidak menjadi bawahannya dia, malah kita harus menjadi atasan dia. AI itu tidak punya rasa humanis, padahal itu kelebihan kita. Kita perlu memahami kelebihan dan kekurangan kita sehingga kita tahu bagaimana menyeimbangkan dengan masifnya teknologi saat ini,â tuturnya.
Lebih lanjut ia menyampaikan program UGM Preneur ini dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pola pikir mandiri dan kemampuan menciptakan lapangan kerja. Perkembangan teknologi digital dan otomatisasi telah menggeser kebutuhan tenaga kerja, sehingga lulusan perguruan tinggi perlu didorong untuk tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga sebagai wirausahawan. âSehingga hal ini perlu mindset dalam memandang adanya kemandirian, bagaimana menciptakan kemandirian individu yang dapat menciptakan kemandirian bangsa,â jelasnya.
Menurutnya, UGM memiliki inovasi riset yang jarang sekali dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Ia menilai bahwa UGM telah lama berinovasi dan menciptakan kebutuhan kemandirian masyarakat, sehingga kolaborasi ini diharapkan dapat mengembangkan spirit entrepreneurship bagi mahasiswa yang nantinya dapat menciptakan dampak bagi kemandirian ekonomi bangsa.
Selain itu, kolaborasi dan membangun jejaring menjadi kunci dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi dunia luar yang kompetitif dan penuh tantangan. Sehingga menurutnya, perlu adanya pembekalan ketangguhan untuk bertahan, meraih kesuksesan, dan memberi dampak. Ia berharap program UGM Preneur kedepannya dapat melahirkan pengusaha-pengusaha piawai didukung dengan adanya kapasitas mahasiswa, kualitas riset, ketersediaan basis data, hingga ekosistem akademik UGM. âDengan kerja sama melalui program UGM Preneur ini, mahasiswa bisa belajar menerapkan mindset entrepreneurship yang dapat berdampak nyata, menciptakan lapangan pekerjaan, dan melakukan hal yang berbeda yang dapat menciptakan peningkatan kualitas masyarakat,â jelasnya.
Tim Schoolmedia
Tinggalkan Komentar