Gempa M 7,7 Flores Tewaskan 103 Orang, Badan Geologi Ungkap Faktor yang Memperparah Dampak

Schoolmedia News – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 menimbulkan dampak besar. Jumlah korban meninggal dunia dilaporkan mencapai 103 orang.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap sejumlah faktor geologi yang turut memperparah dampak gempa. Selain guncangan kuat, terdapat potensi bahaya ikutan seperti gerakan tanah, retakan tanah, tsunami, dan likuefaksi.
Salah satu kondisi yang menjadi perhatian adalah indikasi likuefaksi. Fenomena tersebut ditandai antara lain dengan keluarnya air dari dalam tanah di kawasan Waekokak-Mbay. Likuefaksi dapat terjadi ketika tanah yang jenuh air kehilangan kekuatannya akibat guncangan gempa.
Badan Geologi juga mencatat adanya tsunami kecil yang teramati di Bonea, Selayar. Kondisi ini menunjukkan bahwa gempa tidak hanya menimbulkan guncangan, tetapi juga dapat memicu sejumlah bahaya ikutan yang perlu diwaspadai masyarakat.
Dari sisi tektonik, BMKG menjelaskan gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas busur belakang Flores. Kawasan ini memiliki potensi gempa besar. BMKG menyebut potensi maksimum di wilayah tersebut berada pada kisaran magnitudo 7,8 hingga 7,9.
Gempa besar sebelumnya pernah terjadi di kawasan tersebut pada 1992 dengan kekuatan sekitar M 7,5 dan menimbulkan kerusakan serta tsunami. Menurut BMKG, setelah hampir tiga dekade, kembali terjadi pelepasan energi besar di busur belakang Flores.
Selain kerusakan bangunan, guncangan juga berdampak pada sejumlah fasilitas publik. BMKG melaporkan kerusakan pada beberapa bagian bangunan rumah sederhana di Maumere, Manggarai Barat, dan Labuan Bajo, serta fasilitas Pelabuhan Maumere dan Hotel Jayakarta Bajo.
Aktivitas gempa susulan juga menjadi perhatian. BMKG mencatat puluhan gempa susulan dalam pemantauan awal setelah gempa utama, dengan magnitudo hingga M 6,2 pada periode awal pengamatan.
Rangkaian kondisi tersebut menunjukkan bahwa besarnya dampak gempa dipengaruhi bukan hanya oleh kekuatan guncangan, tetapi juga kondisi geologi setempat, karakteristik tanah, serta keberadaan wilayah yang memiliki potensi bahaya ikutan.
Pemerintah dan masyarakat di wilayah terdampak perlu tetap memperhatikan informasi resmi kebencanaan, terutama terkait gempa susulan, potensi gerakan tanah, serta kondisi bangunan yang mungkin mengalami kerusakan.
Liputan Khusus Lainnya:
PLTS Gilimanuk Tak Hanya untuk Bali Barat, Listriknya Bisa Disalurkan hingga Bali Selatan