Karhutla Bromo Capai 742,70 Hektare, Tim Gabungan Fokus Padamkan 2 Titik Api
Schoolmedia News – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, terus menjadi perhatian. Hingga perkembangan terbaru, area terdampak kebakaran telah mencapai sekitar 742,70 hektare.
Tim gabungan masih melakukan upaya pemadaman dan pendinginan untuk memastikan api tidak kembali menyebar. Dari sejumlah titik yang sebelumnya terbakar, kini tersisa dua titik api yang berada di kawasan Penanjakan.
Pemadaman dilakukan melalui kombinasi operasi darat dan udara. Tim menggunakan helikopter untuk menjalankan water bombing, terutama untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses dari darat. Dalam operasi sebelumnya, tiga helikopter BNPB menjatuhkan sekitar 24.000 liter air dalam satu hari.
Kondisi medan menjadi salah satu tantangan dalam proses pemadaman. Kawasan pegunungan dengan kontur yang sulit dijangkau, ditambah kondisi kering dan angin, membuat api berpotensi bergerak dan menyebar ke area lain.
Karena itu, pemadaman tidak hanya diarahkan pada kobaran api yang terlihat. Petugas juga melakukan penyisiran dan pendinginan untuk menemukan titik panas yang berpotensi kembali memicu kebakaran.
Kebakaran yang meluas hingga ratusan hektare tersebut juga berdampak terhadap aktivitas wisata di kawasan Bromo. Akses wisata ditutup sebagai langkah pengamanan sekaligus memberikan ruang bagi petugas untuk melakukan operasi pemadaman.
Penutupan kawasan dilakukan untuk melindungi wisatawan dari risiko kebakaran sekaligus menjaga kelancaran proses penanganan. Kondisi tersebut juga menjadi perhatian karena Bromo merupakan salah satu destinasi wisata alam unggulan di Jawa Timur.
Selain mengancam kawasan wisata, kebakaran berpotensi memberikan dampak terhadap ekosistem TNBTS. Vegetasi pegunungan yang berada di kawasan taman nasional menjadi bagian dari area yang harus dilindungi selama proses pemadaman dan pemulihan.
Tim gabungan kini terus memantau perkembangan titik api di Penanjakan. Upaya tersebut diperlukan untuk memastikan dua titik api yang tersisa dapat dikendalikan dan tidak berkembang menjadi kebakaran baru.
Sementara itu, dugaan awal mengenai penyebab kebakaran mengarah pada faktor manusia. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak sebelumnya menyebut dugaan kelalaian manusia sebagai salah satu kemungkinan penyebab kebakaran. Namun, penyebab pasti tetap perlu dipastikan melalui pemeriksaan pihak berwenang.
Musim kemarau turut memperbesar risiko penyebaran api. Kondisi vegetasi yang kering membuat api lebih mudah menjalar, sementara angin dapat mempercepat pergerakan kobaran ke kawasan lain.
Dengan luas area terdampak mencapai lebih dari 742 hektare, penanganan kebakaran Bromo membutuhkan koordinasi berbagai pihak. Pemadaman, pendinginan, patroli, dan pemantauan titik panas terus dilakukan secara berkelanjutan.
Tersisanya dua titik api di Penanjakan menjadi perhatian utama tim di lapangan. Petugas diharapkan dapat segera mengendalikan titik tersebut sehingga kebakaran tidak kembali meluas.
Kawasan Bromo kini masih dalam penanganan hingga kondisi dinilai aman. Pemulihan kawasan dan evaluasi terhadap penyebab kebakaran akan menjadi tahap penting setelah seluruh titik api berhasil dipadamkan.
_