Cari

Jawa Barat, Kab. Bandung Barat

Bentrok Pelajar di Cihampelas, Siswa SMAN 5 Bandung Meninggal di Lokasi



Schoolmedia News Bandung = Malam itu, Jumat, 13 Maret 2026, Bandung sedang gemericik. Jarum jam menunjukkan pukul 23.30 WIB ketika serombongan remaja dengan puluhan sepeda motor membelah kesunyian Jalan Cihampelas. Suara knalpot brong yang memekakkan telinga seolah menjadi genderang perang di tengah sunyinya kota yang mulai terlelap.

Di barisan belakang rombongan siswa SMAN 5 Bandung itu, seorang remaja berinisial AF (17) memacu motornya. Mereka baru saja menyelesaikan tradisi tahunan: buka bersama. Namun, suasana hangat sisa bukber itu menguap seketika saat bayangan sekelompok remaja lain muncul dari kegelapan di sekitar persimpangan menuju jalan-jalan tikus Cihampelas.

Dugaan awal polisi menyebutkan, mereka adalah kelompok dari sekolah rival, SMAN 2 Bandung. Tanpa banyak retorika, bentrokan pecah. Batu terbang, kayu diayunkan, dan senjata tajam berkilat di bawah lampu merkuri. AF yang berada di posisi buncit tak sempat memacu gas lebih dalam. Ia terjepit, dikepung, dan akhirnya terkapar.

Keesokan paginya, video pendek dari akun @bagasinetwork viral. Rekaman itu memperlihatkan tubuh yang tak lagi bergerak, meringkuk di samping trotoar yang dingin. Darah mengering di atas aspal. Bandung gempar: seorang pelajar kembali tewas di tangan sesama pelajar.

Tradisi Berdarah yang Berulang 

Tawuran di Bandung bukanlah barang baru, namun pola "bentrok pasca-bukber" ini menunjukkan luka lama yang tak pernah benar-benar kering. Menurut data Kepolisian Daerah Jawa Barat, sepanjang tahun 2025 saja, tercatat ratusan insiden kekerasan yang melibatkan remaja di wilayah hukum mereka.

“Ini adalah fenomena gunung es,” ujar seorang pengamat pendidikan, Itje Chodidjah, menanggapi tragedi Cihampelas. Menurutnya, pendidikan moral dari jenjang dasar hingga menengah seolah "patah" di tengah jalan. “Kita sedang dalam status darurat pendidikan kalau pengeroyokan dianggap sebagai cara menyelesaikan sengketa identitas,” tambahnya.

Riset sosiologi menunjukkan bahwa tawuran di Bandung seringkali dipicu oleh hal sepele: saling tatap, persinggungan di media sosial, atau sekadar menjaga "wilayah kekuasaan" yang diwariskan oleh alumni. Doktrin senioritas dan rasa solidaritas yang keliru—sering disebut sebagai esprit de corps yang cacat—menjadi bensin yang menyulut api dendam antar-almamater.

Surat Bermaterai yang Tak Berdaya

Tragedi ini juga menyingkap tabir rapuhnya pengawasan keluarga. Penjabat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkapkan kekecewaannya. Ia menyoroti bahwa orang tua korban sebenarnya telah menandatangani surat pernyataan bermaterai yang menjamin bahwa anak mereka tidak akan menggunakan kendaraan bermotor ke sekolah maupun di luar jam sekolah secara liar.

“Orang tuanya sudah menandatangani pernyataan. Di luar jam sekolah, itu tanggung jawab penuh keluarga. Tidak adil jika semua beban dilemparkan ke pundak guru atau pemerintah,” ujar Dedi dengan nada gusar saat ditemui di Cirebon, Sabtu lalu.

Namun, di lapangan, realitanya jauh lebih kompleks. Jalanan Bandung di malam hari, terutama di akhir pekan, seringkali berubah menjadi sirkuit bagi geng-geng motor yang didominasi pelajar. Mereka mencari pengakuan di balik masker dan helm, menjauh dari pengawasan orang tua yang mungkin sedang tertidur lelap, yakin anaknya sudah pulang ke rumah.

Lorong Gelap Cihampelas 

Kapolsek Coblong, Kompol Riki Erikson, mengonfirmasi bahwa kasus ini kini telah dilimpahkan ke Polrestabes Bandung untuk penyelidikan lebih mendalam. "Dugaan awal memang ada perselisihan antara siswa SMAN 5 dan SMAN 2. Kami sedang mengejar para pelaku pengeroyokan," ujarnya singkat.

Di depan gerbang SMAN 5 Bandung, suasana duka menyelimuti. Karangan bunga berjajar, namun ada rasa getir yang tersisa. Seorang siswa yang enggan disebut namanya berbisik, "Kami hanya ingin bukber, Bang. Tidak ada yang mengira bakal berakhir begini."

Tragedi Cihampelas adalah pengingat pahit. Bahwa di kota yang dijuluki Parijs van Java ini, nyawa seorang anak manusia bisa melayang hanya karena urusan ego kelompok yang sempit. Di saat warga Bandung bersiap menyambut Idul Fitri dengan suka cita, sebuah keluarga justru harus menyiapkan kain kafan untuk putra mereka.

Bandung hari ini tidak hanya dingin karena udaranya, tapi juga karena hilangnya rasa kemanusiaan di balik seragam putih abu-abu.

Tim Schoolmedia

Berita Regional Sebelumnya
Menteri Agama Larang ASN Gunakan Kendaraan Dinas untuk Mudik Lebaran

Berita Regional Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar