
Satuan PAUD di Seram Bagian Timur Menjemput Cahaya Pengetahuan Dengan Papan Tulis Pintar, Laptop, dan Starlink
PAUDPEDIA Maluku - Di ujung timur Pulau Seram, Maluku, tepatnya di Kecamatan Bula Barat, Kabupaten Seram Bagian Timur, deru mesin perahu dan sunyinya hutan biasanya menjadi latar keseharian. Namun, sejak akhir tahun 2025, sebuah revolusi senyap tengah terjadi di dalam ruang kelas TK Negeri Jembatan Basah.
Di sana, anak-anak usia dini tidak lagi hanya menatap papan tulis kayu yang kusam, melainkan sebuah layar sentuh raksasa yang memancarkan warna-warni tata surya.
Widia Ningsih (28), atau yang akrab disapa Ibu Widia, adalah salah satu saksi sekaligus penggerak perubahan tersebut. Guru kelas B ini masih ingat betul bagaimana sulitnya membawa dunia luar ke dalam kelas sebelum bantuan digitalisasi dari pemerintah pusat tiba.
"Dulu, kalau mau cari materi pembelajaran, kami harus menunggu sangat lama karena internet sering hilang-hilang. Kalau hujan, jaringan telekomunikasi biasa langsung putus," kenang Widia saat berbincang melalui sambungan virtual, Rabu 24 Februari 2026.
Kini, kendala geografis itu perlahan terkikis. Berkat bantuan perangkat Interactive Flat Panel (IFP) atau papan tulis digital, laptop, dan pemancar internet satelit Starlink, TK Negeri Jembatan Basah menjadi pionir digitalisasi PAUD di kecamatannya. Dari 13 satuan PAUD di Bula Barat, sekolah inilah yang pertama kali mencicipi teknologi mutakhir tersebut.
Penantian Lima Tahun
Perjalanan mendapatkan perangkat ini bukanlah proses instan. Widia menceritakan bahwa pihak sekolah telah mengajukan proposal sejak tahun 2019, saat status sekolah mereka masih swasta. Penantian panjang itu baru membuahkan hasil pada akhir 2025, tepat setelah sekolah berganti status menjadi negeri.
Logistik menjadi tantangan tersendiri. Pengiriman barang dari Ambon menuju Seram Bagian Timur membutuhkan waktu lebih dari satu minggu melalui jalur darat dan laut. "Barangnya sampai di kabupaten, satu minggu kemudian baru kami ditelepon untuk siap-siap. IFP datang duluan di akhir November, lalu laptop dan Starlink menyusul di bulan Desember," kata Widia.
Instalasi Starlink dilakukan oleh petugas pos dengan bantuan aplikasi khusus untuk menentukan koordinat satelit terbaik. Hasilnya? Revolusioner bagi wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar).
"Kami lebih nyaman pakai Starlink. Biarpun hujan, dia tetap terkoneksi. Sangat memudahkan kami yang jauh dari kota," tambahnya.
Belajar Tata Surya hingga Mewarnai Digital
Setiap pagi, rutinitas di TK Negeri Jembatan Basah kini diawali dengan menyalakan perangkat Starlink. Pembelajaran dimulai dengan "Senam Anak Indonesia Hebat" yang videonya diputar langsung melalui layar IFP. Anak-anak yang dulunya hanya melihat gambar diam di buku, kini bisa berinteraksi dengan aplikasi "Rumah Pendidikan".
Widia menjelaskan bahwa penggunaan IFP dibatasi maksimal 30 menit per sesi, sesuai arahan Bimbingan Teknis (Bimtek) dari BPMP Provinsi untuk menjaga kesehatan mata anak. Dalam durasi tersebut, anak-anak diajak bermain angka, mengenal bentuk, hingga "menjelajah" ruang angkasa.
"Kami sering cari foto-foto kegiatan tata surya. Kalau dulu harus menunggu sampai sore untuk mengunduh materi buat besok, sekarang tinggal cari dan tampilkan. Anak-anak sangat antusias melihat visual yang interaktif," tutur Widia yang saat ini juga sedang menempuh studi S1 di Universitas Terbuka (UT).
Kehadiran Starlink tidak hanya bermanfaat bagi siswa, tetapi juga bagi peningkatan kapasitas guru. Sebagai mahasiswa pejuang gelar di daerah pelosok, Widia merasa sangat terbantu dalam mengerjakan tugas kuliah dan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tanpa harus mencari sinyal ke luar desa.
Tantangan Pemeliharaan
Meski teknologi telah tersedia, tantangan baru muncul: keamanan dan pemeliharaan. Karena sekolah ini menjadi satu-satunya titik dengan koneksi internet cepat di desa, daya tarik bagi warga sekitar sangat besar.
Pihak sekolah mengambil kebijakan tegas dengan hanya menyalakan Starlink dari pagi hingga jam satu siang saat guru pulang. "Kami takut kalau dinyalakan sampai malam, anak-anak dari luar desa datang dan malah merusak fasilitas di sekitar sekolah. Jadi, siang kami cabut, pagi baru nyalakan lagi," tegas Widia.
Ke depan, Widia berharap pemerintah tidak hanya memberikan perangkat, tetapi juga pendampingan teknis dan konten pembelajaran yang terus diperbarui sesuai kurikulum PAUD. Ia juga berharap 12 sekolah lainnya di Bula Barat bisa segera menyusul agar ketimpangan digital di daerah 3T tidak semakin lebar.
"Digitalisasi ini adalah jendela bagi anak-anak kami di pedalaman untuk melihat dunia. Kami ingin mereka punya mimpi yang sama tingginya dengan anak-anak di kota besar," pungkasnya.
Tantangan berikutnya adalah soal keberlanjutan. Widia berharap pemerintah tidak hanya berhenti pada pemberian perangkat fisik. Guru-guru di daerah 3T membutuhkan pelatihan dan pendampingan berkelanjutan agar mampu mengintegrasikan teknologi ini ke dalam kurikulum dengan benar, bukan sekadar menjadikannya pengganti televisi di dalam kelas.
âKetersediaan konten pembelajaran yang relevan dengan kearifan lokal Maluku namun dikemas secara digital juga menjadi harapan besar. Widia bermimpi agar 12 satuan PAUD lainnya di Kecamatan Bula Barat bisa segera menyusul langkah mereka.
â"Kami ingin pemanfaatan IFP ini maksimal, bukan cuma buat nonton video, tapi buat interaksi soal-soal edukatif. Digitalisasi ini adalah jendela bagi anak-anak kami di pedalaman untuk melihat dunia. Kami ingin mereka punya mimpi yang sama tingginya dengan anak-anak di Jakarta atau kota besar lainnya," pungkas Widia dengan nada optimistis.
Membuat Perubahan Pembelajaran
Widia mengungkapkan bahwa kehadiran teknologi ini membawa perubahan drastis dalam efisiensi mengajar. Sebelumnya, guru harus menunggu hingga sore hari hanya untuk mengunduh materi visual karena kendala sinyal.
â"Dulu kalau internet susah, kami menunggu sangat lama sekali. Kadang sore baru bisa pulang karena harus menyiapkan materi untuk besok. Sekarang, dengan Starlink, kami bisa langsung mencari foto kegiatan tata surya atau video animasi untuk anak-anak," ujar Widia.
âPenggunaan papan tulis digital berukuran 75 inci tersebut juga meningkatkan antusiasme siswa. Setiap pagi, anak-anak mengawali kegiatan dengan senam dan sesi speaking yang dipandu langsung melalui layar digital. Widia menyebutkan bahwa visualisasi materi melalui video animasi keagamaan dan gambar interaktif memudahkan anak usia dini memahami konsep yang sebelumnya sulit dibayangkan.
âMeskipun fasilitas teknologi yang diterima sudah sangat memadai, termasuk bantuan laptop dan alat permainan, kondisi infrastruktur bangunan masih menjadi catatan. Saat ini, seluruh perangkat canggih tersebut disimpan di ruang kantor karena keterbatasan kelas.
â"Harapan kami ke depannya, semoga bangunan sekolah kami juga bisa diperbaiki. Saat ini bantuan teknologi sudah lengkap, tapi ruangan kami masih terbatas," tutup Widia.
Pewawancara: EB Harsono
Tinggalkan Komentar