
Schoolmedia News Sibolga, Tapteng = Langit Sibolga pada akhir November 2025 itu tampak kelabu, seolah mencerminkan duka yang merayap di tanah pesisir Tapanuli Tengah. Banjir bandang bukan sekadar datang membawa air dan lumpur; ia membawa serta ketakutan bagi mereka yang hidup di dekat aliran sungai.
Namun, di tengah kepungan musibah yang meluluhlantakkan bangunan dan sarana prasarana satuan PAUD, ada dua sosok perempuan yang menolak untuk membiarkan masa depan anak-anak didik mereka ikut terkubur di bawah endapan lumpur.
Mereka adalah “Opung” Mariana Ezra Siregar, pengelola PAUD Ganda, dan Pendeta Larisma Sibarani, S.Th., Kepala Satuan PAUD Berkat yang juga melayani di Gereja Kristen Nazaret, Sibolga.
Bagi keduanya, sekolah bukan sekadar gedung tempat mentransfer ilmu. Sekolah adalah rumah bagi mimpi, tempat di mana kasih sayang dipupuk agar anak-anak tumbuh menjadi manusia yang utuh.
Opung Marina Empat Dekade Mengabdi
Lahir pada tahun 1962, Opung Mariana Ezra Siregar bukanlah orang baru dalam dunia pendidikan. Meski gerak dan kelincahannya menurut dan berjalan menggunakan “kruk” atau tongkat semangatnya untuk pendidikan anak usia dini terus menyala.
Dedikasinya telah teruji selama lebih dari empat puluh tahun sebagai guru Sekolah Dasar. Karier puncaknya membawa ia menjabat sebagai Kepala Sekolah TK Negeri Pembina di Kecamatan Pandan.
Namun, ketika masa pensiun tiba pada tahun 2015, ia merasa belum tuntas mengabdi. Alih-alih menikmati masa tua dengan bersantai, ia justru terpanggil membangun PAUD Ganda.
Saat bencana banjir bandang 25 November 2025 melanda, sekolah yang ia bangun dengan keringat dan doa itu terendam air. "Sekolah saya itu 100 meter dari bibir sungai. Di depan sekolah ada masjid, air merendam hingga setinggi pintu," kenang Opung Mariana dengan getir.
Pemandangan bangunan yang luluh lantak sempat membuatnya terpukul. Namun, ketika dua belas dari dua puluh delapan anak didiknya kembali datang, menatapnya dengan mata polos, Opung Mariana sadar ia harus tegak berdiri.
Karena tanah lama sudah tidak lagi memungkinkan untuk berdiri kokoh di zona rawan, ia mengambil keputusan besar. Ia menghibahkan sebidang tanah milik keluarga mendiang suaminya di kelurahan yang sama untuk lokasi sekolah yang baru.
"Anak-anak senang lagi, mereka tidak sedih lagi," ucapnya, menyiratkan bahwa tawa anak-anak adalah bayaran termahal bagi segala pengorbanan yang ia lakukan.
Pendeta Larisma 18 Tahun Berkarya

Di sisi lain, Pendeta Larisma Sibarani, S.Th., memberikan perspektif tentang pelayanan yang tak mengenal lelah. Selama delapan belas tahun, ia menjalani peran ganda sebagai pendidik sekaligus pemimpin spiritual di Gereja Kristen Nazaret, Sibolga. Baginya, menjadi kepala satuan PAUD adalah bentuk nyata dari pengabdian iman.
"Kami sangat tergoncang saat bencana. Sekolah kami berdampak, anak-anak harus libur karena banyak yang menjadi korban," ujarnya.
Selama hampir dua dekade, sekolah yang menampung 35 anak didik dengan empat tenaga pengajar itu telah menjadi saksi bisu dedikasinya. Bencana banjir kali ini adalah ujian terberat, namun ia memilih untuk merangkul guru-guru dan orang tua murid agar tidak kehilangan arah.
Ia percaya bahwa pendidikan adalah "jangkar" yang akan menjaga anak-anak agar tidak hanyut oleh trauma bencana.
Peningkatan kualitas layanan pendidikan anak usia dini terus menjadi perhatian utama pemerintah, salah satunya diwujudkan melalui pelaksanaan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan.
Kegiatan ini berlangsung di PAUD Berkat, yang mendapatkan dukungan langsung dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah serta Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini.
Bantuan pemerintah dalam program ini dilaksanakan oleh P2SP, dengan jadwal pelaksanaan yang telah ditetapkan selama 90 hari kalender, terhitung mulai tanggal 28 Maret hingga 29 Juni 2026.
Seluruh biaya yang dibutuhkan untuk kegiatan ini bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN Tahun Anggaran 2026, dengan nilai total bantuan yang dialokasikan sebesar Rp429.668.000.
Dengan adanya program ini, diharapkan perbaikan dan pengembangan fasilitas serta sarana pendukung pendidikan di PAUD Berkat dapat terlaksana dengan baik.
Hal ini pada akhirnya akan menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, aman, dan memadai, sehingga proses pendidikan dan pengasuhan bagi anak usia dini dapat berjalan secara optimal serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka secara menyeluruh.
Bantuan Revitalisasi sebagai Napas Baru
Di tengah kelelahan fisik dan mental, Bantuan Revitalisasi Sekolah dari Pemerintah Pusat, melalui Bapak Presiden Prabowo Subianto dan Kementerian Pendidikan, menjadi angin segar yang memulihkan energi mereka. Bantuan ini bukan hanya soal renovasi fisik, melainkan suntikan moral bagi kedua pendidik hebat ini.
"Bantuan ini memberikan kami semangat baru," ungkap keduanya senada. Melalui revitalisasi ini, PAUD Ganda dan PAUD Berkat kini perlahan membangun kembali ruang-ruang kelas mereka. Dinding-dinding yang sempat retak kini diperkuat, perabotan yang rusak diganti, dan yang paling penting, rasa aman anak-anak saat belajar mulai pulih kembali.
Pembangunan dan peningkatan kualitas fasilitas pendidikan menjadi salah satu fokus utama upaya pemerintah dalam menciptakan lingkungan belajar yang layak dan mendukung perkembangan anak usia dini.
Salah satu wujud nyata dari komitmen ini terlihat pada pelaksanaan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang ditujukan untuk PAUD Ganda, yang dikelola di bawah naungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, serta Direktorat Pendidikan PAUD Anak Usia Dini.
Kegiatan ini berupa bantuan pemerintah yang bertujuan untuk memperbaiki dan membangun fasilitas pendidikan agar sesuai dengan standar pelayanan yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Pelaksanaannya dipercayakan kepada P2SP, dengan rentang waktu pelaksanaan selama 150 hari kalender, dimulai dari tanggal 18 Maret 2026 hingga 18 Agustus 2026.
Segala biaya yang dibutuhkan untuk kegiatan ini bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026, dengan total dana bantuan yang dialokasikan mencapai Rp1.071.452.000,00.
Adanya dukungan pendanaan dan perencanaan yang terstruktur ini diharapkan dapat mewujudkan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, sehingga PAUD Ganda mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas, nyaman, dan aman bagi seluruh peserta didik, sekaligus menjadi landasan yang kuat bagi perkembangan potensi anak-anak sejak usia dini.
Mengajar dengan Kasih dan Harapan
Kisah Opung Mariana dan Pendeta Larisma adalah cermin ketangguhan perempuan Indonesia. Mereka bekerja di garis depan pendidikan, menembus tantangan geografis dan kebencanaan demi satu tujuan: memastikan anak-anak Sibolga tidak kehilangan masa depan.
Dalam sunyi pagi hari di Sibolga, kita bisa membayangkan mereka sedang memantau proses pembangunan sekolah. Mereka adalah potret pahlawan masa kini—perempuan-perempuan yang dengan sabar menata kembali puing-puing bangunan, sembari membasuh luka trauma di hati anak-anak mereka.
Pendidikan di Indonesia memang masih menghadapi banyak tantangan, terutama di daerah yang rawan bencana. Namun, selama masih ada pendidik seperti Opung Mariana dan Pendeta Larisma, kita boleh sedikit bernapas lega. Mereka membuktikan bahwa ketika cinta dan dedikasi menjadi fondasi, tidak ada bencana yang cukup kuat untuk merobohkan masa depan sebuah bangsa.
Sibolga kini pelan-pelan berbenah. Di salah satu sudut kota itu, di PAUD Ganda dan PAUD Berkat, lonceng sekolah akan kembali berdentang, menyambut anak-anak yang siap kembali menuliskan mimpi mereka di atas lembaran kertas yang bersih, menggantikan jejak lumpur yang kini telah disapu oleh harapan baru.
Peliput : Eko B Harsono
Tinggalkan Komentar