
Schoolmedia News Jakarta = Memasuki masa Paskah tahun 2026, Gereja Katolik Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) mengeluarkan seruan moral yang tajam sekaligus reflektif bagi umatnya. Di tengah kepungan krisis iklim yang kian nyata menyentuh sendi kehidupan di wilayah Jabodetabek, Kardinal Ignatius Suharyo melalui Surat Gembala Prapaskah 2026 menegaskan bahwa kesalehan beragama tidak lagi bisa dipisahkan dari tanggung jawab menjaga alam. Tema ââ¬ÅKepedulian Pada Alam Ciptaanââ¬Â menjadi puncak dari rangkaian panjang pendidikan sosial Gereja yang telah dimulai sejak 2022.
Surat yang dibacakan sebagai pengganti khotbah pada perayaan Ekaristi Sabtu dan Minggu tersebut, membawa pesan mendalam mengenai "Pertobatan Ekologis". Istilah ini bukan sekadar retorika spiritual, melainkan sebuah panggilan untuk mengubah gaya hidup yang eksploitatif menjadi gaya hidup yang memelihara.
Krisis yang Tak Lagi Berjarak
Dalam dokumen tersebut, Kardinal Suharyo memaparkan data yang menggentarkan. Hingga tahun 2025, kerusakan alam di Indonesia telah mencapai titik nadir. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 3.116 kejadian bencana, di mana 99 persen di antaranyaââ¬âseperti banjir dan tanah longsorââ¬âmerupakan dampak langsung dari kerusakan ekosistem. Banjir sendiri mendominasi dengan 1.584 kasus, dengan wilayah Sumatera sebagai titik paling parah.
Namun, bagi warga di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), krisis ini bukan lagi sekadar angka di atas kertas. KAJ menyoroti secara khusus polusi udara yang kian menyesakkan akibat emisi kendaraan dan industri, pencemaran sungai oleh limbah rumah tangga, hingga krisis sampah yang tak kunjung menemui solusi tuntas. Penurunan muka tanah dan kerentanan iklim menjadi ancaman eksistensial, terutama bagi masyarakat miskin yang memiliki daya lenting paling rendah.
ââ¬ÅTidak ada dua krisis yang terpisah, yang satu menyangkut lingkungan (alam) dan yang lain sosial, tetapi satu krisis sosial-lingkungan yang kompleks,ââ¬Â demikian Kardinal mengutip ensiklik Laudato Siââ¬â¢ karya mendiang Paus Fransiskus. Pernyataan ini menegaskan bahwa kerusakan alam berbanding lurus dengan ketidakadilan sosial.
Fondasi Hikmat dan Kematangan Iman
Narasi surat gembala ini dibuka dengan refleksi teologis yang kuat, menghubungkan perilaku etis dengan kematangan iman. Mengacu pada Injil Matius, umat diingatkan bahwa hidup keagamaan harus ââ¬Ålebih benarââ¬Â daripada sekadar menjalankan ritual formal. Kebenaran tersebut, dalam konteks saat ini, diwujudkan melalui pilihan-pilihan hidup yang berhikmat.
Kardinal menekankan bahwa pribadi yang berhikmatââ¬âsebagaimana diajarkan Rasul Paulusââ¬âadalah pribadi yang matang dan mulia. Dalam konteks ekologis, kematangan ini diuji melalui kemampuan manusia untuk tidak memilih "kematian" (kerusakan alam), melainkan memilih "hidup" (kelestarian).
Sejak tahun 2022, KAJ secara sistematis telah memandu umat melalui lima pokok Ajaran Sosial Gereja (ASG). Dimulai dari penghormatan martabat manusia, kesejahteraan bersama, solidaritas, hingga kepedulian pada kaum miskin. Tahun 2026 menjadi tahun penentu di mana semua nilai tersebut dikerucutkan pada pemeliharaan bumi sebagai rumah kita bersama (oikos).
Dari Meja Makan Hingga Kebijakan Publik
Pesan yang disampaikan dalam surat ini tidak berhenti pada tataran filosofis. KAJ mendorong adanya aksi nyata yang bersifat "ekonomi sirkular"ââ¬âsebuah konsep di mana sumber daya digunakan selama mungkin, diekstraksi nilai maksimumnya, lalu dipulihkan kembali pada akhir masa pakainya.
Beberapa langkah konkret yang diusulkan meliputi:
Pertanian Perkotaan (Urban Farming): Memanfaatkan lahan kosong untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus menurunkan suhu mikro kota.
Pengelolaan Sampah: Mengolah sampah menjadi berkah, memilah sampah dari rumah, dan bekerja sama dengan bank sampah.
Gaya Hidup Hemat: Mengurangi pemborosan air, listrik, dan yang paling krusial, berhenti membuang-buang makanan (food waste).
"Hal-hal baik ini hendaknya terus dilanjutkan sampai menjadi kebiasaan dan gaya hidup yang berkelanjutan," tulis Kardinal. Gereja menyadari bahwa perubahan sistemik hanya bisa terjadi jika ada kolaborasi antara kesadaran individu, dukungan komunitas, dan sinergi dengan otoritas pemerintah serta lembaga masyarakat.
Warisan untuk Generasi Mendatang
Salah satu poin penting dalam surat tersebut adalah penekanan pada peran orang tua sebagai teladan bagi kaum muda dan anak-anak. KAJ menginstruksikan agar lembaga pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial di bawah naungan Gereja menjadi "laboratorium" bagi praktik ramah lingkungan.
Sikap meneladan Santo Fransiskus Assisi, yang menghayati harmoni dengan Allah, sesama, dan alam, menjadi kompas moral dalam gerakan ini. Kesederhanaan hidup (ugahari) dipandang sebagai senjata utama melawan konsumerisme akut yang menjadi akar krisis ekologi.
Dengan memasuki masa Prapaskah pada Rabu Abu, 18 Februari 2026 nanti, umat diajak untuk tidak hanya berpantang makan atau daging, tetapi juga "berpantang" dari segala tindakan yang merusak bumi. Pertobatan ini dipandang sebagai kontribusi nyata bagi keselamatan generasi sekarang dan masa depan.
Melalui surat ini, Gereja Katolik di Jakarta seolah sedang mengetuk nurani publik: bahwa mencintai pencipta berarti juga menjaga ciptaan-Nya. Di tengah tantangan ekologis yang kian berat, panggilan untuk merawat bumi bukan lagi pilihan fakultatif, melainkan sebuah keharusan moral yang mendesak demi kelangsungan hidup manusia itu sendiri.
Tim Schoolmedia
Tinggalkan Komentar