Cari

Ketangguhan Indonesia Negeri di Atas Cincin Api, Ikhtiar Keluar dari Lingkaran Bencana Melalui IDMS 2026



Schoolmedia News Jakarta =  Di sebuah ruangan pertemuan di jantung Jakarta, udara terasa lebih berat dari biasanya. Para pakar, pejabat pemerintah, aktivis kemanusiaan, hingga pelaku usaha berkumpul bukan sekadar untuk seremoni tahunan.

Di hadapan mereka, terpampang angka-angka yang menyesakkan dada: sepanjang tahun 2025, Indonesia dihantam 3.233 kejadian bencana. Sebanyak 1.623 nyawa hilang atau dinyatakan hilang, sementara lebih dari 10 juta jiwa terpaksa mengungsi karena rumah mereka lumat oleh amukan alam.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu menjadi latar belakang yang getir bagi penyelenggaraan Indonesia Disaster Management Summit (IDMS) 2025. Pertemuan tingkat tinggi pertama ini bukan sekadar forum diskusi, melainkan sebuah pengakuan jujur bahwa sebagai bangsa yang hidup di atas Ring of Fire (Cincin Api), Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan respons saat bencana tiba. Karakteristik geografis, geologis, dan demografis kita adalah takdir yang menuntut kesiapsiagaan tanpa henti.

Kondisi Geografi yang Menantang 

Indonesia adalah sebuah paradoks keindahan dan ancaman. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, luas daratannya mencapai 1.904.569 kilometer persegi.

Secara statistik, Indonesia menempati posisi ke-14 sebagai negara terluas berdasarkan daratan, dan ke-7 jika menggabungkan luas laut. Namun, di balik kemegahan bentang alamnya, Indonesia menyimpan risiko yang tak terukur.

Keberadaan Indonesia di zona subduksi akibat pergerakan lempeng tektonik menciptakan sabuk gunung api aktif yang melingkari nusantara. Hingga hari ini, terdapat 127 gunung api aktif yang tersebar dari ujung Sumatera hingga Maluku.

Tantangannya kian pelik karena faktor demografi: lebih dari 270 juta jiwa mendiami negeri ini, di mana separuhnya berjejal di Pulau Jawa—pulau terpadat di dunia. Jutaan orang tinggal tepat di kaki gunung api dan di sepanjang garis pantai yang rawan tsunami, menjadikan risiko korban jiwa selalu mengintai di setiap pergeseran bumi.

Tahun 2025 memberikan pelajaran berharga sekaligus menyakitkan. Banjir dan tanah longsor di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada penghujung tahun menjadi pengingat bahwa perubahan iklim kian memperparah kerentanan geologis kita.

Sebanyak 216.672 unit rumah rusak, dan 2.532 unit fasilitas umum serta sosial—sekolah, tempat ibadah, hingga puskesmas—lumpuh.

Tragedi ini bukan sekadar angka di atas kertas laporan. Ia adalah potret anak-anak yang kehilangan sekolahnya, petani yang melihat sawahnya terkubur lumpur, dan keluarga yang harus memulai hidup dari nol di tenda pengungsian. Realitas inilah yang mendorong Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) untuk menginisiasi IDMS 2025 sebagai titik balik tata kelola bencana di Indonesia. 

Sinergi Pentahelix dan Gotong Royong Modern

Dalam kompleksitas bencana di Indonesia, mustahil mengharapkan pemerintah bekerja sendiri. Semangat gotong royong, yang merupakan modal sosial terbesar bangsa, kini diterjemahkan ke dalam konsep sinergi "Pentahelix". Konsep ini melibatkan lima pilar utama: pemerintah, masyarakat sipil, akademisi, media, dan dunia usaha.

IDMS 2025 menjadi wahana strategis untuk mempertemukan kelima unsur ini. Tujuannya jelas: membangun ketangguhan nasional secara berkelanjutan. Di tahap prabencana, akademisi berperan menyediakan riset dan teknologi aksi antisipatif (anticipatory action). Dunia usaha berkontribusi dalam penguatan logistik dan asuransi risiko bencana. Sementara itu, media memegang peran krusial dalam menyebarkan informasi peringatan dini yang akurat dan mengedukasi publik tanpa menciptakan kepanikan.

Laporan pelaksanaan IDMS pertama ini menekankan bahwa kolaborasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. "Kemitraan adalah kunci untuk menghadapi kompleksitas penanggulangan bencana," tulis laporan tersebut. Tanpa koordinasi yang sinkron, bantuan saat tanggap darurat seringkali tumpang tindih, sementara fase pascabencana kerap terlupakan.

Salah satu isu strategis yang mendominasi diskusi di IDMS 2025 adalah perubahan iklim. Pola cuaca yang kian ekstrem membuat bencana hidrometeorologi seperti banjir dan kekeringan menjadi lebih sulit diprediksi. Oleh karena itu, penguatan aksi antisipatif menjadi rekomendasi kebijakan utama.

Aksi antisipatif menuntut kita untuk bertindak berdasarkan prakiraan, bukan hanya setelah bencana terjadi. Misalnya, jika data BMKG menunjukkan curah hujan ekstrem akan melanda suatu wilayah dalam tiga hari ke depan, maka dana darurat dan logistik harus sudah bergerak sebelum air naik. Hal ini terbukti jauh lebih efektif dalam mengurangi jumlah korban dan kerugian materiil dibandingkan hanya melakukan evakuasi saat kejadian.

Menuju Perlindungan Masyarakat Efektif

Upaya perlindungan masyarakat harus dimulai dari tingkat terkecil, yakni keluarga dan desa. Laporan IDMS menyoroti pentingnya literasi bencana di masyarakat sipil. Warga yang tinggal di zona merah gunung api harus memahami jalur evakuasi sebagaimana mereka memahami rute menuju pasar. Pengetahuan lokal yang dipadukan dengan teknologi modern akan menciptakan masyarakat yang tidak hanya tanggap, tapi juga tangguh.

Pascabencana, prinsip Build Back Better (Membangun Kembali dengan Lebih Baik) harus menjadi harga mati. Fasilitas sosial yang rusak tidak boleh dibangun dengan standar yang sama di lokasi yang sama. Rehabilitasi dan rekonstruksi harus mempertimbangkan pemetaan risiko jangka panjang agar siklus kerusakan tidak berulang di masa depan.

IDMS 2025 diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen administratif di rak perpustakaan. Laporan ini dirancang menjadi rujukan hidup bagi peningkatan kualitas kolaborasi multipihak. Keberhasilan pertemuan pertama ini akan menjadi fondasi bagi pelaksanaan pertemuan serupa di tahun-tahun mendatang, dengan target yang lebih tajam dan komitmen yang lebih kuat.

Indonesia memang ditakdirkan hidup di atas "sumbu" yang bisa meledak kapan saja. Namun, sejarah panjang bangsa ini telah membuktikan bahwa kita adalah penyintas. Dengan sinergi pentahelix yang solid, penguatan teknologi aksi antisipatif, dan kesadaran kolektif untuk menjaga alam, Indonesia perlahan namun pasti dapat keluar dari lingkaran bencana menuju masa depan yang lebih aman dan berkelanjutan.

Ketangguhan nasional bukanlah sebuah tujuan akhir, melainkan perjalanan panjang yang harus ditempuh bersama. Seperti pepatah lama, "Sedia payung sebelum hujan," bagi Indonesia, payung itu adalah kolaborasi, dan hujan itu adalah kepastian geologis yang harus kita hadapi dengan kepala tegak.

Tim Schoolmedia

Lipsus Sebelumnya
Kunjungan Presiden ke Jepang dan Korea Hasilkan Komitmen Bisnis Rp575 Triliun

Liputan Khusus Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar