Cari

Diplomasi Inklusif di Makati: Menakar Jaring Pengaman ASEAN 2045



Schoolmedia News Jakarta = Di sebuah ruang pertemuan di Makati, Manila, pekan lalu, keriuhan diplomasi Asia Tenggara tidak lagi sekadar membahas tarif dagang atau sengketa perairan. Fokus bergeser pada sesuatu yang lebih mendasar: ketahanan keluarga, nasib pekerja migran, dan kesiapan pemuda menghadapi disrupsi digital.

Dalam perhelatan ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC) High-Level Forum dan pertemuan ke-35 Dewan ASCC pada 4-5 Maret 2026, Indonesia hadir membawa proposal ambisius. Di bawah bayang-bayang visi ASEAN Community 2045, Jakarta menekankan bahwa kawasan ini tidak akan bisa berlari kencang jika fondasi sosialnya masih rapuh.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum—yang akrab disapa Lisa—datang mewakili Menko PMK Pratikno. Di hadapan para menteri sosial-budaya se-ASEAN, Lisa menegaskan posisi Indonesia: mendukung penuh kerangka RISE yang diusung Filipina sebagai pemegang keketuaan tahun ini.

RISE, sebuah akronim dari Resilient and Empowered Families, Inclusive Development, Small Youth and Innovation, Environmentally Sustainable and Food-Secure Future, dianggap selaras dengan kepentingan domestik Indonesia. Namun, bagi Jakarta, konsep di atas kertas saja tidak cukup. "Implementasinya perlu didorong melalui kerja sama yang konkret, lintas sektor, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di kawasan," ujar Lisa.

Indonesia menyodorkan tiga arah strategis untuk membumikan visi tersebut. Pertama adalah pemberdayaan komunitas. Jakarta memandang perlindungan sosial dan ketahanan pangan bukan lagi isu sektoral, melainkan benteng pertahanan kawasan. Indonesia, yang saat ini memimpin ASEAN Committee on Disaster Management (ACDM), berkomitmen memasukkan agenda pengurangan risiko bencana sebagai bagian tak terpisahkan dari infrastruktur sosial.

Kedua, kesiapan kelembagaan. Indonesia mendesak agar berbagai pusat studi dan koordinasi ASEAN—mulai dari pusat pengendalian perubahan iklim hingga pusat koordinasi polusi asap lintas batas—segera dioperasionalkan secara penuh. Tanpa mesin birokrasi yang lari cepat, visi 2045 dikhawatirkan hanya menjadi tumpukan dokumen tanpa taji.

Ketiga, dan mungkin yang paling sensitif, adalah soal manfaat nyata bagi rakyat. Indonesia secara spesifik menyoroti nasib pekerja migran. Jakarta meminta penguatan kerangka perlindungan, akses layanan kesehatan, dan pengakuan keterampilan antarnegara anggota. Bagi Indonesia, integrasi ekonomi ASEAN tidak boleh mengorbankan perlindungan kemanusiaan bagi para "pahlawan devisa" di kawasan.

Resep "Whole of Society"

Satu poin yang menjadi sorotan adalah ketika delegasi Indonesia memaparkan konsep Whole-of-Society Empowerment. Di tengah krisis kesehatan publik dan perubahan iklim yang tak terduga, pemerintah menyadari bahwa mereka tidak bisa bekerja sendirian.

"Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, sektor swasta, dan pemuda akan memperkuat kapasitas kawasan," kata Lisa. Ia memamerkan praktik baik di tanah air, seperti mekanisme Musrenbang dan platform e-Musrenbang yang memungkinkan suara dari desa terdengar hingga tingkat nasional.

Sebagai langkah konkret, Indonesia mengusulkan pembentukan ASEAN Platform for Whole-of-Society Practices. Wadah ini dirancang sebagai ruang berbagi "dapur" kebijakan—bukan hanya memamerkan keberhasilan, tetapi juga membedah kegagalan dan tantangan agar negara tetangga tidak jatuh di lubang yang sama.

Di penghujung forum, isu pemuda menjadi penutup yang krusial. Indonesia memandang investasi pada literasi digital dan pendidikan vokasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan jika ASEAN ingin selamat dari disrupsi teknologi. Harapannya, pemuda bukan sekadar menjadi objek pembangunan, melainkan subjek yang duduk di meja perumusan kebijakan.

Langkah Indonesia di Makati menunjukkan pergeseran gaya diplomasi yang lebih membumi. Di bawah semangat "Navigating Our Future, Together," Jakarta mencoba memastikan bahwa kapal besar bernama ASEAN ini tidak hanya megah di anjungan, tetapi juga kokoh dan inklusif bagi setiap penumpang di dalamnya.

Tim Schoolmedia

Lipsus Selanjutnya
Sosialisasi Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 Perkuat Budaya Sekolah Aman dan Nyaman
Lipsus Sebelumnya
Antisipasi Kemarau Panjang, Petani Perlu Mitigasi Risiko Gagal Tanam dan Panen

Liputan Khusus Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar