Cari

Analisis Psikologi Pendidikan: Dampak Skor Tes Standar terhadap Motivasi Belajar


Schoolmedia News Jakarta = Pemerintah menghadapi tantangan besar dalam pemetaan potensi sumber daya manusia di sektor pendidikan. Data terbaru menunjukkan, dari sekitar 40 juta murid yang tercatat dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik), baru sekitar 379.000 murid atau kurang dari 1 persen yang teridentifikasi sebagai talenta unggul. Kondisi ini memicu urgensi penguatan fase fondasi pendidikan nasional sejak anak usia dini.

Guna menutup celah tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi mengundangkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 25 Tahun 2025 tentang Manajemen Talenta Murid. Regulasi ini menjadi payung hukum untuk membangun sistem pelacakan dan pengembangan bakat yang terstruktur sejak bangku sekolah paling awal.

Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Maria Veronica Irene Herdjiono, dalam Taklimat Media di Jakarta, mengungkapkan bahwa angka 379.000 tersebut menunjukkan masih banyaknya "mutiara" di berbagai daerah yang belum terdeteksi oleh sistem.

"Angka ini tentu masih kecil jika dibandingkan total populasi murid kita. Masih banyak potensi di daerah yang belum teridentifikasi. Karena itu, pembangunan fase fondasi sejak anak berusia dini menjadi mendesak agar tidak ada bakat yang tersia-siakan," ujar Irene.

Ketika skor tes standar seperti TKA (Tes Kemampuan Akademik) dijadikan variabel penentu dalam seleksi pendidikan (SPMB), terjadi pergeseran fundamental dalam struktur kognitif dan emosional murid. Secara psikologis, dampak ini dapat dibedah melalui tiga teori utama:

1. Pergeseran dari Motivasi Intrinsik ke Ekstrinsik

Berdasarkan teori dari Deci & Ryan, manusia memiliki kebutuhan dasar akan otonomi dan kompetensi.

  • Risiko: Ketika hasil TKA menjadi "tiket" masuk sekolah, murid cenderung kehilangan motivasi intrinsik (belajar karena rasa ingin tahu). Belajar berubah menjadi aktivitas instrumental demi menghindari kegagalan atau mendapatkan imbalan (kursi di sekolah favorit).

  • Dampaknya: Pengetahuan yang diperoleh melalui motivasi ekstrinsik biasanya bersifat jangka pendek (superficial learning). Murid akan cepat melupakan materi setelah tes usai karena fokusnya adalah skor, bukan penguasaan konsep. 

2. Fenomena "Teaching to The Test" dan Penyempitan Kognitif 

Penggunaan tes standar secara masif memaksa guru dan murid masuk dalam jebakan kurikulum yang sempit.

  • Analisis: Murid akan mengabaikan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan kecerdasan emosional karena hal-hal tersebut sulit diukur dengan soal pilihan ganda atau standar TKA.

  • Dampaknya: Terjadi penurunan kemampuan higher-order thinking skills (HOTS). Murid menjadi ahli dalam "memecahkan soal", namun gagap dalam "memecahkan masalah" di kehidupan nyata yang kompleks dan tidak memiliki pilihan jawaban A, B, atau C.

3. Kecemasan Akademik dan Konsep Diri 

Bagi murid berusia dini (SD/SMP), identitas diri mereka masih sangat rapuh dan sangat dipengaruhi oleh pengakuan eksternal.

  • Risiko: Skor rendah dalam TKA dapat diinternalisasi oleh murid sebagai cerminan kecerdasan mereka secara utuh (fixed mindset).

  • Dampaknya: Menurunnya self-efficacy (keyakinan akan kemampuan diri). Murid yang mendapatkan skor rendah di bawah standar nasional berisiko mengalami kecemasan akademik kronis dan perasaan inferior yang dapat menghambat perkembangan bakat non-akademik lainnya.

    Untuk memitigasi dampak negatif di atas, kebijakan TKA perlu dikritisi dengan poin-poin berikut:

    1. Stop Pelabelan Skor Tunggal: Pemerintah harus menghindari penggunaan skor TKA sebagai satu-satunya indikator "prestasi". Skor tersebut harus disajikan dalam bentuk profil kemampuan (misal: kuat di logika, perlu bimbingan di literasi) daripada angka tunggal yang menghakimi.

    2. Urgensi Pembangunan Fondasi (Pendidikan Anak Usia Dini): Mengingat hanya 379.000 dari 40 juta murid yang teridentifikasi bertalenta, fokus pemerintah seharusnya bukan pada "menyeleksi" yang sedikit itu, melainkan "membangun" fase fondasi sejak dini agar populasi murid bertalenta meningkat secara organik, bukan melalui tekanan tes.

    3. Audit Psikologis Berkala: Perlu ada kajian dampak psikologis pasca-TKA. Jika ditemukan peningkatan stres anak usia sekolah secara signifikan di suatu daerah, maka penggunaan TKA sebagai jalur seleksi di daerah tersebut harus ditinjau ulang.

      Tim Schoolmedia

Lipsus Selanjutnya
Menagih Janji RUU Sisdiknas: Saat Ambisi Politik Menyandera Mutu Masa Depan
Lipsus Sebelumnya
PPDB Sekolah Garuda 2026 Dibuka Februari, Ini Syarat dan Jadwal Lengkapnya

Liputan Khusus Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar