Cari

SMK Perikanan dan Kelautan Belum Dioptimalkan Dukung Produksi Paket MBG Enak dan Bergizi


Schoolmedia News Jakarta =  Dalam rangka mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola oleh SMK Perikanan dan Kelautan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, menghadirkan beragam olahan menu bergizi berbahan dasar hasil laut. Menariknya, menu MBG beserta proses penyiapannya dikerjakan langsung oleh para murid melalui kolaborasi antar-teaching factory (Tefa) yang ada di sekolah tersebut.

Kepala SMK Perikanan dan Kelautan Puger, Kuntjoro Basuki, mengatakan bahwa dapur MBG di sekolahnya telah mulai beroperasi sejak akhir Desember lalu. Selain melayani anak-anak sekolah dari jenjang pendidikan anak usia dini hingga pendidikan menengah, paket makanan bergizi gratis dari SPPG SMK Perikanan dan Kelautan Puger juga menyasar balita serta ibu hamil di wilayah Jember. “Setiap harinya kami menyiapkan 3.000 porsi menu MBG untuk sebagian wilayah Jember,” ujar Kuntjoro.

Berbeda dengan dapur MBG lainnya, SPPG ini dikelola langsung oleh para murid yang secara bergantian menjalankan berbagai tugas dapur, mulai dari menyiapkan bahan makanan, membersihkan peralatan makan, hingga pengepakan makanan. Seluruh proses tersebut menjadi bagian dari kegiatan praktik pembelajaran murid. “Prosesnya juga melibatkan kolaborasi antar-teaching factory yang ada di sekolah. Hampir seluruh teaching factory di SMK Perikanan dan Kelautan Puger dilibatkan dalam program ini,” tambah Kuntjoro.

Sebagai contoh, bahan baku makanan berupa udang dan ikan disiapkan oleh Tefa Agribisnis Budi Daya Air Laut dan Payau. Tefa ini merupakan salah satu praktik baik dari Program SMK Pusat Keunggulan yang secara rutin menghasilkan panen udang vaname berkualitas ekspor. “Udang hasil budi daya tersebut kemudian diolah atau difilet oleh murid dari Tefa Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan menjadi aneka bahan makanan, seperti bola-bola udang yang selanjutnya diolah menjadi menu MBG pentol udang barbeque,” jelas Kuntjoro.

Menu tersebut, lanjutnya, cukup diminati oleh para penerima manfaat MBG. Hal ini terlihat dari respons penerima yang senantiasa menghabiskan makanan yang disajikan. Untuk menghindari kejenuhan, para guru dan murid, dengan pendampingan ahli gizi yang bertugas, juga mengolah udang dan ikan menjadi variasi menu lain yang bernilai gizi tinggi, seperti udang krispi yang tak kalah lezat.

Kolaborasi antar-Tefa di dapur SPPG SMK Perikanan dan Kelautan Puger tidak hanya terbatas pada penyiapan menu MBG. Murid dari jurusan lain, seperti Teknik Instalasi Listrik, turut terlibat dalam penataan dan pengelolaan berbagai instalasi teknis yang dibutuhkan, antara lain perangkat tungku masak, alat pengering, dan fasilitas pendukung lainnya.

Kolaborasi Terus Meluas

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Dirjen Diksi PKPLK), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Tatang Muttaqin, menyambut baik praktik pengelolaan dapur SPPG di SMK Perikanan dan Kelautan Puger. Menurutnya, kolaborasi antar-teaching factory tersebut menunjukkan dampak positif Program MBG, khususnya dalam peningkatan kompetensi murid melalui pembelajaran berbasis proyek yang diawasi langsung oleh petugas SPPG, seperti ahli gizi dan ahli sanitasi.

Dirjen Tatang berharap agar kolaborasi dalam pengelolaan SPPG dapat diperluas, tidak hanya antar-Tefa di satu sekolah, tetapi juga melibatkan SMK lain yang bergerak di bidang pangan, seperti SMK perikanan, peternakan, dan pertanian, yang selama ini memproduksi bahan pangan untuk diolah di dapur MBG. “Dengan demikian, bahan pangan diproduksi oleh Tefa SMK Perikanan, Peternakan, Pertanian, maupun Tata Boga. Bahkan, pengembangan alat-alat pendukung dapur SPPG juga dapat diproduksi oleh murid-murid SMK,” ujar Tatang dalam keterangannya di Jakarta (12/1).

Ia menambahkan bahwa Program MBG berpotensi memberikan dampak yang luar biasa, tidak hanya dalam pemenuhan gizi masyarakat Indonesia, tetapi juga dalam penguatan pendidikan vokasional di SMK. “Produksi Tefa meningkat, proses pembelajaran semakin kuat, omzet Tefa pun bertambah, dan pada akhirnya Indonesia dapat semakin berdaulat di bidang pangan,” pungkas Dirjen Tatang.

Tim Schoolmedia

Lipsus Selanjutnya
Kukuhkan 7 Profesor Baru, UIN Jakarta Kini Miliki 151 Guru Besar
Lipsus Sebelumnya
Hari Desa Nasional 2026: Perempuan Jadi Pilar Utama Pembangunan Desa

Liputan Khusus Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar