Ilustrasi korban perundungan di Pontianak, Kalimantan Barat, Foto: pixabay
Bersikap cuek ketika menerima sikap perundungan dari teman sangat penting untuk melawan perundungan. Psikolog klinis anak Violetta Hasan Noor mengatakan hal tersebut.
"Kalau kita merasa tersakiti, depresi, maka pelaku bullying akan merasa makin berkuasa dan makin besar perbuatannya. Tapi kalau kita cuek saja, mereka akan merasa kalah karena tidak ada respons dari kita," kata Violetta di Pekanbaru, Rabu, 10 April 2019.
Masalah perundungan pada anak kembali menjadi sorotan nasional setelah kasus yang menimpa seorang siswi SMP berinisial AU, di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Dia menjadi korban penganiayaan belasan murid SMA. Kejadian memilukan itu menyebar luas di dunia maya, sehingga seruan tagar #justiceforAudrey menjadi topik bahasan utama dalam dua hari terakhir.
Menurut Violetta, kecenderungan anak muda gampang marah dan emosi serta bersikap agresif tidak lepas dari lemahnya peran orangtua dalam menanamkan nilai-nilai luhur sejak dini.
Baca juga: Akademisi: Kasus Siswi SMP Ingatkan Pentingnya Pendidikan Karakter
Orangtua zaman ini, kata Violetta, umumnya terlalu sibuk dengan dunia kerja, sehingga kurang meluangkan waktu untuk memperhatikan anak serta mengajarkan nilai-nilai empati, gotong royong dan toleransi.
Violetta menilai dalam kasus perundungan murid sekolah di Pontianak, pelaku perundungan juga bisa dikategorikan sebagai korban karena dia berperilaku demikian karena orangtua lalai dalam mendidik dan mengawasi mereka.
Dia menekankan bahwa dalam hati kecilnya pelaku perundungan sebenarnya membutuhkan perhatian dan sentuhan kasih sayang karena mungkin mereka tidak mendapatkannya dari orangtua dan orang-orang sekitarnya.
Baca juga: Kemendikbud: PAUD Tekankan Pendidikan Karakter, Bukan Calistung
Menurut Violetta, pelaku perundungan melakukan aksinya karena ingin merasa punya kuasa ketika melihat orang lain terlihat lemah di hadapannya. Mereka, kata Violetta melanjutkan, bersikap itu untuk mengisi kehampaan dan mengatasi ketidakpuasan yang muncul karena kurangnya kasih sayang yang mereka dapatkan.
"Yang dicari dari perilaku bully adalah power (sifat berkuasa), ketika dapat akan lakukan itu terus karena orang lain lemah," kata Violetta.
Violetta menilai banyaknya kasus perundungan di sekolah bukan berarti sumber permasalahan itu berasal dari institusi pendidikan. Pangkal masalahnya, menurut Violetta, ada di rumah dan lingkungan tempat anak tinggal, dan sekolah menjadi media penyaluran agresi anak.
"Kasus bullying banyak di sekolah, tapi awal mula bukan di sekolah intinya. Sekolah hanya jadi media penyaluran karena itu tempat anak bersosialisasi lebih luas," ujar Violetta.
Tinggalkan Komentar