Ilustrasi anak autis, Foto: pixabay
Wali Kota Padang, Sumatera Barat Mahyeldi mengingatkan bahwa anak yang menyandang autis dan down syndrome merupakan rahmat dan karunia Tuhan.
"Semua makhluk ciptaan Allah di muka bumi ini tidak ada yang sia-sia, pasti ada hikmah dan gunanya," kata Mahyeldi di Padang, pada peringatan Hari Autis dan Down Syndrome se-Dunia, Minggu, 7 April 2019.
Menurut Mahyeldi semua manusia pasti memiliki kekurangan dan di saat yang bersamaan juga memiliki kelebihan. Pihaknya, kata Mahyeldi, bertanggung jawab mengayomi dan melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecual karena itu mari bersama-sama mewujudkan kepedulian dan perhatian kepada penyandang autis.
Saat ini, kata Mahyeldi, Kota Padang telah memiliki Pusat Layanan Autis di Kampung Jambak, Gunung Sarik, Kecamatan Kuranji. Pusat Layanan Autis ini, kata Mahyeldi memberikan diagnosis gratis bagi anak, pelatihan gratis bagi orang tua yang memiliki anak autis.
Pusat Layanan Autis (PLA), kata Mahyeldi menjelaskan, bertujuan memberikan layanan autis serta memberikan layanan terpadu sesuai dengan karakteristik anak dengan jenis layanan penilaian, intervensi terpadu, pendidikan transisi dan layanan umum.
"Program di PLA dititikberatkan pada bagaimana mengajarkan kemampuan dasar mandiri untuk anak dengan autisme, seperti mandi, makan, minum, buang air kecil, buang air besar, melepas sepatu, dan memakai baju," kata Mahyeldi.
Sementara Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang, Barlius mengakan kompleksitas permasalahan yang dihadapi penyandang autis, mengharuskan pihak penyelenggara sekolah autis, menyediakan tenaga profesional dan tenaga teknis. Akibatnya, beban biaya masyarakat khususnya orang tua anak autis menjadi besar. Menurut Barlius PLA ini merupakan jalan keluarnya untuk menghadapi kondisi tersebut.
"Penyandang autis memiliki hak yang sama dalam pendidikan, di beberapa program dan kegiatan, kita dibantu beberapa orang pakar dan relawan autis dan down sydrome internasional," ujar Barlius.
Bahkan, kata Barlius menambahkan, banyak dari sekolah umum di wilayah tersebut telah melaksanakan pendidikan inklusi.
Barlius menyebutkan saat ini Padang memiliki 45 TK, 104 SD dan 35 SMP inklusi yang menerima anak berkebutuhan khusus. Dari sisi kurikulum di sekolah tersebut, kata Barsilus, tetap sama dengan sekolah biasa akan tetapi guru dilatih untuk mengajar anak berkebutuhan khusus.
Pada peringatan Hari Autis dan Down Syndrome se-Dunia ini, dilaksanakan jalan santai dan diikuti penyandang autis serta unjuk bakat dan keterampilan.
Tinggalkan Komentar