Fenomena FOMO di Kalangan Pelajar: Takut Tertinggal atau Terlalu Bergantung pada Media Sosial?

Jakarta — Notifikasi yang terus berbunyi, unggahan teman yang selalu muncul, hingga tren baru yang berganti setiap hari membuat banyak pelajar merasa harus selalu mengikuti perkembangan media sosial. Perasaan takut tertinggal dari informasi, kegiatan, atau pengalaman orang lain inilah yang dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out).
Fenomena FOMO semakin sering dibahas karena berkaitan dengan kebiasaan penggunaan media sosial di kalangan remaja. Banyak siswa mengaku sulit melepaskan ponsel, bahkan saat belajar, karena khawatir melewatkan pesan, unggahan, atau percakapan yang sedang ramai dibicarakan. Akibatnya, perhatian mudah terpecah dan waktu belajar menjadi kurang efektif.
Para ahli menjelaskan bahwa FOMO bukan sekadar rasa penasaran biasa. Perasaan ini dapat mendorong seseorang untuk terus memeriksa media sosial secara berulang. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa FOMO memiliki hubungan dengan penggunaan media sosial yang berlebihan dan dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis maupun kebiasaan belajar.
Bagi pelajar, dampak yang paling sering dirasakan adalah menurunnya konsentrasi saat belajar. Ketika ponsel terus diperiksa di tengah mengerjakan tugas, otak membutuhkan waktu untuk kembali fokus pada pelajaran. Kebiasaan ini juga dapat membuat waktu belajar terasa lebih panjang, sementara hasil yang diperoleh tidak selalu optimal.
Selain itu, FOMO terkadang membuat siswa membandingkan dirinya dengan orang lain. Melihat teman memperoleh nilai tinggi, memenangkan lomba, atau mengikuti berbagai kegiatan dapat memunculkan perasaan tertinggal. Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial sering kali hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Meski demikian, media sosial bukanlah musuh. Platform digital juga dapat menjadi sarana belajar, berdiskusi, mencari informasi, dan mengembangkan kreativitas. Yang terpenting adalah bagaimana pelajar menggunakannya secara seimbang dan bertanggung jawab.
Agar tidak terjebak dalam FOMO, pelajar dapat mencoba beberapa langkah sederhana:
Menentukan waktu khusus untuk membuka media sosial.
Menonaktifkan notifikasi saat belajar.
Mengutamakan tugas dan kegiatan sekolah sebelum berselancar di media sosial.
Mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Memperbanyak aktivitas di dunia nyata, seperti olahraga, membaca, atau mengikuti organisasi sekolah.
Guru dan orang tua juga memiliki peran penting dalam mendampingi penggunaan media sosial oleh remaja. Diskusi terbuka mengenai kebiasaan digital, manajemen waktu, dan kesehatan mental dapat membantu pelajar menggunakan teknologi dengan lebih bijak.
Pada akhirnya, FOMO adalah tantangan yang wajar di era digital. Namun, pelajar tidak harus selalu mengikuti setiap tren yang muncul. Kemampuan mengatur waktu, menjaga fokus belajar, dan menggunakan media sosial secara sehat justru akan menjadi bekal yang lebih berharga untuk meraih prestasi dan membangun masa depan.
Artikel Lainnya:
Belajar Makin Seru! Ini Rekomendasi Channel YouTube Edukatif Anti Bikin Bosan
Sekolah Inklusi Bukan Sekolah Khusus, Saatnya Meluruskan Miskonsepsi di Masyarakat