
Dibalik Rimbun Sawit 10.000 Hektar Revitalisasi Satuan PAUD di Tapanuli Tengah Beri Harapan Pendidikan Bermutu dan Setara Untuk Daerah 3T
Schoolmedia News TAPANULI TENGAH – Deru mesin kendaraan yang kami tumpangi perlahan meredam, berganti dengan suara gesekan pelepah sawit yang diterpa angin. Di depan kami, terbentang pemandangan seragam: hamparan perkebunan kelapa sawit seluas 10.000 hektar yang memisahkan akses dunia luar dengan permukiman di pedalaman Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Hampir tiga jam Tim PAUDPEDIA menempuh perjalanan dari Jalan Raya Pandan yang riuh membelah jutaan pohon Sawit di Kecamatan Bidari Tapteng menuju Desa Sitardas. Debu jalanan berganti menjadi tanah merah yang lembab setelah diguyur hujan semalam.
Di sinilah, di tengah keterpencilan geografis daerah 3T (Terluar Terpencil Tersesungguhnya berada, bayang-bayang trauma bencana, secercah harapan mulai dibangun. Sebanyak dua satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yakni KB Tunas Bangsa dan PAUD Mekar Melati, kini tengah memasuki babak baru: groundbreaking atau peletakan batu pertama revitalisasi fisik sekolah.
Ini bukan sekadar membangun dinding dan atap. Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup sebagai petani sawit dan buruh di perusahaan perkebunan setempat, proyek yang ditargetkan selesai dalam 150 hari ke depan ini adalah simbol kehadiran negara yang nyata di pelosok negeri.
Luka Lama dan Harapan Baru
Kondisi dua sekolah ini sebelumnya memang memprihatinkan. Ruslia Simanungkalit, Kepala Sekolah KB Tunas Bangsa di Dusun 3, Desa Sitardas, Kecamatan Tapanuli Tengah, masih ingat betul bagaimana air bah menyapu sekolah mereka.
"Saat bencana banjir kemarin, sekolah kami terendam selama kurang lebih lima hari. Kondisinya sangat memprihatinkan, fasilitas belajar hancur," kenang Ruslia dengan nada getir.
Selama ini, sebanyak 53 anak didik di KB Tunas Bangsa—yang mayoritas adalah putra-putri buruh PT CPA—terpaksa belajar dalam keterbatasan. Keinginan Ruslia sederhana: agar anak-anak di desa tersebut bisa merasakan kelas yang layak dan suasana belajar yang nyaman.
Berkat bantuan revitalisasi senilai Rp1,28 miliar dari pemerintah, mimpi itu kini perlahan terwujud.
“Murid kami rata-rata anak petani sawit dan pekerja di ladang sawit milik perusahaan asing yang menguasai hampir 10.000 hektar di Kecamatan Bidari. Di kelurahan Sitardas ini terdapat lebih dari 3000 kepala keluarga. Murid kami terjauh ada yang lebih 3 jam untuk datang ke sekolah,” ujar ibu Simanungkalit.
Cerita serupa datang dari Muhtar Bahari, pengelola PAUD Mekar Melati di Desa Ahorsi. Jika KB Tunas Bangsa direhabilitasi di lokasinya, PAUD Mekar Melati justru melakukan langkah berani: relokasi.
"Lokasi sekolah kami yang lama hanya berjarak 50 meter dari titik banjir. Kami selalu dihantui lumpur dan air bah. Karena kami memiliki lahan yang lebih tinggi dan aman, kami memutuskan untuk membangun gedung baru di sini," jelas Muhtar.
Pria yang sehari-harinya bekerja di Dinas Pekerjaan Umum ini mengaku tergerak mengelola PAUD karena motivasi sang istri yang merupakan tenaga pendidik. Dengan bantuan pemerintah sebesar Rp1,286 miliar, Muhtar optimistis target penyelesaian pada September mendatang bisa tercapai.
"Kami mendapatkan satu ruang kantor, satu ruang administrasi, tiga ruang kelas, fasilitas sanitasi, serta area bermain yang layak," tambahnya.
Swakelola, Semangat Gotong Royong
Ada yang menarik dalam pola pembangunan revitalisasi ini. Pemerintah tidak menggunakan kontraktor besar dari luar, melainkan menerapkan sistem swakelola yang melibatkan masyarakat setempat.
Di lokasi pembangunan PAUD Mekar Melati, tampak warga bahu-membahu menata material. Para petani sawit yang biasanya sibuk di kebun, kini menyisihkan waktu untuk menjadi tenaga kerja pembangunan sekolah anak-anak mereka sendiri.
"Pembangunan swakelola ini sangat efektif. Kami melibatkan warga setempat dan tukang yang memang kami percayai. Dengan cara ini, rasa memiliki masyarakat terhadap sekolah menjadi jauh lebih tinggi," tutur Muhtar.
Pilihan swakelola ini sejalan dengan arahan pemerintah pusat untuk memastikan setiap rupiah bantuan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh komunitas lokal. Selain mempercepat proses pembangunan, sistem ini sekaligus menjadi sarana pemberdayaan ekonomi bagi warga sekitar yang terdampak bencana.
Memutus Rantai Keterbatasan
Bagi anak-anak di Tapanuli Tengah, akses terhadap pendidikan usia dini yang berkualitas adalah tiket utama untuk memutus rantai kemiskinan dan ketergantungan hidup dari sektor perkebunan.
Selama ini, banyak orang tua di sini terpaksa menyekolahkan anak di bangunan seadanya atau bahkan menumpang di fasilitas yang tidak memenuhi standar minimal pendidikan.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan menyadari bahwa investasi di PAUD adalah investasi masa depan. Dengan target pengerjaan 150 hari, gedung-gedung baru ini diharapkan sudah siap digunakan sebelum tahun ajaran baru mencapai puncaknya.
Bagi Ruslia, bantuan ini bukan hanya soal angka rupiah.
"Kami sangat berterima kasih kepada Presiden Bapak Prabowo Subianto atas perhatian yang diberikan. Ini adalah bukti bahwa pendidikan anak di pelosok, seperti di Desa Sitarnas, tidak luput dari perhatian pemerintah," ujarnya haru.
Saat matahari mulai beringsut turun di balik pepohonan sawit, tim kami berpamitan. Di kejauhan, suara palu beradu dengan paku masih terdengar ritmis.
Di tengah hutan sawit yang luas itu, sebuah bangunan sedang berdiri tegak. Ia bukan sekadar sekolah, melainkan mercusuar kecil di tengah belantara, tempat di mana masa depan anak-anak Tapanuli Tengah mulai dirajut kembali dengan semangat baru, jauh dari ancaman banjir yang selama ini membayangi.
Harapan kini telah ditanam, setara dengan bibit sawit yang tumbuh subur, menunggu masa panen—bukan panen buah, melainkan panen kecerdasan dan masa depan yang lebih baik bagi generasi penerus bangsa.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, khususnya di lingkup Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini. Kegiatan yang dilaksanakan merupakan bagian dari Bantuan Pemerintah Program Revitalisasi Pendidikan, yang diperuntukkan bagi KB Tunas Baru.
Pelaksanaan kegiatan ini dikelola oleh P2SP, dengan jangka waktu pelaksanaan selama 150 hari kalender, yang berlangsung mulai tanggal 20 April hingga 20 September (tanggal akhir tidak tertera sepenuhnya pada papan). Dana yang digunakan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026, dengan total nilai bantuan yang diberikan sebesar Rp1.038.473.000.
Langkah ini merupakan bentuk perhatian pemerintah dalam mendukung pengembangan dan peningkatan kualitas layanan pendidikan anak usia dini di lingkungan tersebut.
Tim Schoolmedia
Tinggalkan Komentar