Cari

Mahasiswa UGM Bikin Inovasi Layanan Psikologi Berbasis AI


YOGYAKARTA, Schoolmedia  = Di sebuah sudut ruang Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Giga Hidjrika Aura Adkhy (23) tampak tekun menatap layar monitornya. Mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi ini bukan sekadar sedang mengejar tenggat tugas akhir. Ia tengah menyempurnakan "Aika", sebuah entitas digital yang lahir dari keprihatinan mendalam atas sunyinya jeritan kesehatan mental di kalangan mahasiswa.

Inovasi yang diberi nama UGM-AICare (Aika) ini bukan sekadar baris kode tanpa jiwa. Berkat ketajaman algoritma dan empati yang disuntikkan ke dalamnya, Aika berhasil menyabet predikat juara pertama kategori "Play Track" pada kompetisi internasional bergengsi, EDU Chain Hackathon 2025. Penghargaan ini membawa pulang hadiah total 250.000 dollar AS, sebuah pengakuan dunia atas solusi lokal untuk masalah universal.

Percikan empati dari Liverpool

Lahirnya Aika bermula dari perantauan intelektual Giga di University of Liverpool, Inggris, pada tahun 2024. Saat mengikuti program pertukaran mahasiswa di sana, ia menyaksikan sebuah kontras yang tajam. Seorang temannya yang mengalami keluhan kesehatan mental mendapatkan bantuan dengan begitu mulus dan bermartabat.

"Layanan psikolog di sana sangat mudah diakses, hanya melalui fasilitas percakapan di telepon seluler," kenang Giga saat ditemui pada Rabu (4/4/2026). Kemudahan akses tersebut membuat penanganan kesehatan mental menjadi bagian organik dari kehidupan kampus, bukan sesuatu yang tabu atau sulit dijangkau.

Sepulangnya ke Tanah Air, realita yang dihadapi justru sebaliknya. Giga menuturkan bahwa jumlah layanan psikolog dengan mahasiswa yang membutuhkan bantuan di Indonesia masih timpang. Antrean panjang, keterbatasan personel, hingga hambatan psikologis seperti rasa malu seringkali menjadi tembok tebal yang menghalangi seseorang untuk mencari pertolongan. Interaksi intensif seperti yang ia lihat di Inggris masih menjadi barang mewah di lingkungan akademik lokal.

Dari kegelisahan itulah, Aika dirancang. Bukan sebagai pengganti manusia, melainkan sebagai kawan bicara berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu menjembatani kesenjangan tersebut. Giga ingin memastikan bahwa setiap keluhan, sekecil apa pun, memiliki ruang untuk didengarkan.

Lebih dari sekadar robot percakapan

Selama ini, publik mungkin akrab dengan AI jenis Large Language Model (LLM) generatif yang cenderung pasif—hanya menjawab jika ditanya. Namun, Aika berbeda. Giga mengonsepnya sebagai AI agent yang otonom dan proaktif. Aika didesain untuk menjadi teman berbasis kecerdasan buatan dengan kemampuan berkomunikasi yang baik, sehingga pengguna merasa seperti mengobrol dengan teman sungguhan.

"Motivasi proyek UGM-AICare ini selain untuk syarat kelulusan saya adalah untuk mendukung teman-teman mendapatkan proper mental health care," tuturnya dengan nada sungguh-sungguh.

Keunggulan utama Aika terletak pada kemampuannya menganalisis keluhan melalui percakapan teks secara mendalam. Pendekatan yang digunakan menyerupai metode kerja psikolog klinis: menggali permasalahan melalui percakapan untuk memahami kondisi pengguna secara utuh. Sistem ini tidak hanya memproses kata kunci, tetapi juga menangkap nuansa emosional di balik teks tersebut.

Jika keluhan tergolong ringan, Aika dapat memberikan saran mandiri seperti teknik pernapasan atau anjuran istirahat cukup. Namun, bila sistem mendeteksi bahwa pengguna membutuhkan bantuan profesional, Aika bertindak lebih jauh. Ia berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan pengguna dengan psikolog manusia secara otonom.

Sinergi teknologi dan sentuhan manusia

Satu hal yang ditegaskan Giga adalah bahwa teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan kehangatan empati manusia sepenuhnya. Dalam sistem Aika, terdapat tiga pengguna utama yang saling terhubung: mahasiswa sebagai pengguna layanan, psikolog atau konselor sebagai penerima laporan dan pemberi tindak lanjut, serta admin yang mengelola keseluruhan sistem.

"Aika tidak menggantikan peran psikolog, melainkan berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan mahasiswa dengan konselor secara lebih cepat dan terarah," ujar Giga.

Dari interaksi awal dengan mahasiswa, Aika akan menyusun rangkuman, penilaian awal, kemungkinan diagnosis, serta rekomendasi bantuan. Berkas digital ini kemudian langsung diteruskan kepada psikolog. Dengan demikian, saat sesi konseling manusia dimulai, sang psikolog sudah memiliki data awal yang solid, sehingga proses penanganan menjadi jauh lebih efektif dan efisien.

Selain membantu proses awal konseling, Aika juga memiliki fitur pemantauan pascakonseling. Ia tidak serta-merta "meninggalkan" penggunanya setelah sesi berakhir. Melalui pengingat e-mail, Aika akan memantau kondisi pengguna. Ke depan, Giga berencana mengintegrasikan sistem ini dengan Telegram untuk membentuk support group antar pengguna, menciptakan ekosistem saling jaga di lingkungan kampus.

Mendobrak tembok stigma

Bagi banyak mahasiswa, hambatan terbesar dalam mencari bantuan bukanlah ketersediaan layanan, melainkan perang batin dalam diri sendiri. Rasa malu, takut dianggap lemah, atau ragu untuk bercerita kepada orang asing seringkali membuat mereka memendam masalah hingga meledak.

"Penggunaan AI sebagai lapisan awal layanan kesehatan mental membantu mengurangi hambatan psikologis tersebut," paparnya. Di hadapan layar ponsel, pengguna seringkali merasa lebih leluasa menyampaikan keluhan karena merasa privasinya lebih terjaga dan tidak merasa dihakimi secara langsung.

Giga berharap inovasi ini akan terus dikembangkan dan diimplementasikan secara luas. Keberhasilan di EDU Chain Hackathon 2025 hanyalah langkah awal. Baginya, kemenangan sesungguhnya adalah ketika tidak ada lagi mahasiswa yang merasa sendirian saat menghadapi badai mental.

Sore itu di Bulaksumur, Giga kembali berkutat dengan barisan kodenya. Ia tahu, di luar sana, mungkin ada seorang mahasiswa yang sedang menggenggam ponsel dengan ragu, mencari tempat untuk bersandar. Melalui Aika, ia ingin memastikan bahwa bantuan hanya sejauh ketukan jari.

Tim Schoolmedia

Artikel Selanjutnya
Perlindungan Jurnalis di Papua Merupakan Mandat Konstitusi dan Cermin Demokrasi
Artikel Sebelumnya
Antara Takbir dan Kenangan Banjir, Dialog Sunyi di Bilik Pengungsian

Artikel Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar