
Setelah Ie Bah Menghempas, Sekolah di Serambi Mekkah Kembali Siap Bersolek
Medan Schoolmedia â Arus deras banjir bandang berisi lumpur dan kayu gelondongan menghantam sejumlah satuan pendidikan di Aceh. Masyarakat Aceh menyebut Ie bah atau air bah itu datang bak tamu tak diundang. Ia tidak hanya membawa duka, tetapi juga menghanyutkan mimpi-mimpi kecil di anak PAUD. Desa Panti Rambung. Latifurahmi, Kepala PAUD Terpadu Desa Panti Rambung, Kecamatan Pantai Bidari, Kabupaten Aceh Timur, masih ingat betul bagaimana sekolahnya tak lagi bisa ditempati.
Bangunan sekolahnya yang biasanya riuh dengan gelak tawa anak-anak, seketika sunyi, terkubur lumpur, dan porak-poranda dihantam terjangan air bah berisi lumpur dan kayu hutan gelondongan.
"Keadaan sekolah saya sangat rusak dan memprihatinkan. Lumpur sangat tinggi. Bukan hanya itu, bangku-bangku hilang tergerus air. Arus banjir yang sangat deras membawa lari kursi, meja, hingga lemari Alat Peraga Edukasi (APE) yang ada di dalam sekolah," ujar Latifurahmi dengan suara yang bergetar namun penuh syukur, Minggu (8/3/2026).
Bagi Latifurahmi dan para pendidik di beranda paling barat Indonesia ini, banjir bukan sekadar siklus alam. Ia adalah ujian ketabahan. Di Kabupaten Aceh Timur, Aceh Tamiang hingga Langsa, jejak-jejak banjir Sumatera beberapa waktu lalu masih menyisakan trauma mendalam bagi satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Namun, di tengah sisa lumpur yang mulai mengering, setitik cahaya muncul melalui program revitalisasi pendidikan dari Pemerintah Pusat.
Kehancuran yang Senyap
Kisah serupa dialami Ibnu Salleh dari PAUD Ibnu Azkiyah, Kota Langsa. Jika di Panti Rambung arus air menghanyutkan perabotan, di Langsa, air merendam bangunan setinggi bahu orang dewasa dalam waktu yang lama. Akibatnya, kerusakan terjadi secara struktural.
Lantai-lantai kelas yang biasanya bersih menjadi tempat berpijak anak-anak,
mengelupas akibat tekanan air dan endapan sedimen. Atap-atap bangunan yang semula kokoh menaungi aktivitas belajar, perlahan roboh karena lapuk terendam kelembapan yang ekstrem.
"Semua mobiler dan fasilitas belajar hancur. Kondisinya sangat parah. Dengan adanya revitalisasi ini, kami merasa terbantu untuk membuat sekolah kembali segar (fresh) agar anak-anak bisa belajar dengan baik lagi," kata Ibnu Salleh.
Bagi mereka, sekolah PAUD adalah fondasi pertama karakter bangsa. Ketika gedung sekolah hancur, bukan hanya fisik bangunan yang hilang, melainkan juga rasa aman bagi anak-anak untuk mengeksplorasi dunia. Tanpa meja, kursi, dan alat peraga, proses transfer ilmu menjadi pincang.
Komitmen Revitalisasi
Titik balik perjuangan para kepala sekolah ini bermula dari kebijakan Presiden Prabowo Subianto dan Kementerian Pendidikan yang meluncurkan program revitalisasi khusus bagi satuan pendidikan terdampak bencana. Program ini tidak sekadar memberikan bantuan fisik, tetapi juga harapan bagi keberlangsungan pendidikan di pelosok Sumatera.
Latifurahmi menyebutkan bahwa melalui bantuan ini, sekolahnya di Panti Rambung akan mendapatkan gedung bangunan baru untuk menggantikan ruang kelas yang sudah tak layak huni. Selain bangunan, bantuan juga mencakup pengadaan kembali Alat Peraga Edukasi (APE) luar ruangan yang sempat hilang tersapu arus.
"Saya sangat berterima kasih kepada Bapak Presiden dan Bapak Menteri Pendidikan. Bantuan ini benar-benar menjawab kebutuhan kami yang kehilangan hampir segalanya saat banjir kemarin," tuturnya.
Sementara itu, di PAUD Ibnu Azkiyah, fokus revitalisasi diarahkan pada rehabilitasi lima ruang belajar, tiga ruang administrasi, serta fasilitas sanitasi. Ibnu menekankan pentingnya pembangunan kamar mandi yang inklusif, termasuk satu unit khusus untuk disabilitas. Baginya, pemulihan pascabencana harus mencakup semua aspek, tanpa terkecuali.
Belajar Mengelola Amanah
Pekan ini, para kepala sekolah dari Aceh tersebut berkumpul dalam sebuah agenda Bimbingan Teknis (Bimtek) yang intensif. Sejak Selasa hingga Jumat, mereka bukan lagi menjadi pengajar, melainkan pelajar. Mereka menyelami materi mengenai tata kelola bangunan, manajemen keuangan, hingga prinsip transparansi anggaran.
Di tengah suasana bulan suci Ramadhan, semangat mereka tidak surut. Ibnu Salleh menyadari bahwa dana yang diberikan adalah niat baik pemerintah yang harus dipertanggungjawabkan hingga rupiah terakhir.
"Kami akan sangat amanah. Kegiatan akan dilaksanakan dengan jujur, terpercaya, dan transparan. Kita gunakan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan dalam RAB (Rencana Anggaran Biaya)," tegas Ibnu.
Proses Bimtek ini menjadi krusial karena seringkali bantuan pascabencana terkendala pada urusan administratif. Dengan pembekalan ini, para kepala sekolah didorong untuk mampu mengawasi jalannya pembangunan secara mandiri.
Latifurahmi menambahkan bahwa ia belajar banyak tentang bagaimana penggunaan dana tersebut harus benar-benar dioptimalkan agar sekolah tidak hanya kembali berdiri, tapi juga lebih kuat dari sebelumnya.
Menenun Kembali Masa Depan
Bencana mungkin telah merobohkan dinding-dinding kelas dan menghanyutkan lemari-lemari kayu, namun ia gagal menghancurkan semangat para pendidik di Aceh. Revitalisasi ini dipandang sebagai momentum untuk melakukan "reset" terhadap kualitas fasilitas pendidikan di daerah.
Kehadiran gedung baru dan fasilitas yang lebih lengkap nantinya diharapkan mampu menghapus memori kelam banjir dari benak anak-anak didik. Mereka ingin, ketika tahun ajaran baru berjalan sepenuhnya, anak-anak di Desa Panti Rambung dan Kota Langsa tidak lagi melihat sekolah mereka sebagai tempat yang rentan, melainkan sebagai benteng ilmu yang kokoh.
"Walaupun tidak semua bagian sekolah bisa direhabilitasi sekaligus, semangat kami tetap tinggi. Ini adalah langkah awal yang sangat berarti," ucap Ibnu menutup pembicaraan.
Kini, tugas berat menanti di depan mata. Membangun kembali sekolah di atas bekas jalur air membutuhkan ketelitian dan perencanaan matang.
Namun, dengan dukungan penuh dari pusat dan komitmen lokal yang kuat, lumpur pekat di sekolah-sekolah Aceh itu perlahan namun pasti akan berganti dengan warna-warni cat baru dan sorak-sorai anak-anak yang kembali menemukan dunianya. Di beranda Sumatera, harapan itu sedang dibangun kembali, bata demi bata.
Pewawancara: Eko B Harsono
Tinggalkan Komentar