Cari

Nyanyian Sunyi di Lereng Merapi, Menolak Menyerah pada Keterbatasan Titik Isnani Bangun Peradaban di PAUD Inklusi Tersenyum



Nyanyian Sunyi di Lereng Merapi, Menolak Menyerah pada Keterbatasan Isnani Bangun Peradaban di PAUD Inklusi Tersenyum

SCHOOLMEDIA NEWS Jakarta - Deru mesin sepeda motor roda tiga itu memecah keheningan pagi di Desa Ringin Lari, Kecamatan Musuk, Boyolali. Di atas jok yang telah dimodifikasi sedemikian rupa, seorang perempuan duduk dengan tegap. Kedua tangannya lincah mengendalikan stang, sementara kakinya—yang tak lagi berfungsi sempurna—bersandar pada pijakan besi tambahan.

Ia adalah Titik Isnani. Bagi warga di lereng timur Gunung Merapi ini, pemandangan Isnani yang membelah kabut pagi adalah jam weker kehidupan. Saban hari, ia menempuh perjalanan bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban profesi, melainkan untuk menjemput mimpi-mimpi kecil yang kerap terpinggirkan di sudut-sudut desa.

Tujuan akhirnya adalah sebuah bangunan sederhana bernama PAUD Inklusi Tersenyum. Di sana, Isnani bukan hanya seorang guru; ia adalah kompas bagi anak-anak yang oleh dunia sering dianggap "berbeda".

Kegelisahan di Balik Senyum

Langkah Titik Isnani mendirikan lembaga ini pada medio 2015 bukan tanpa alasan. Sebagai penyandang disabilitas, ia kenyang menelan pahitnya diskriminasi dan sulitnya akses pendidikan. Ia hafal betul rasanya dipandang sebelah mata.

"Apakah anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) punya ruang yang cukup untuk belajar?" tanya Isnani retoris. Pertanyaan itu terus mendengung di kepalanya bertahun-tahun lalu, hingga akhirnya ia memutuskan untuk membangun sendiri jawaban atas kegelisahannya.

Baginya, PAUD Inklusi Tersenyum bukan sekadar sekolah. Ia adalah laboratorium kemanusiaan. Di sini, sekat-sekat antara anak berkebutuhan khusus dan anak non-ABK dilebur dalam tawa yang sama. Mereka berbagi meja, berebut mainan, dan mengejar bola di halaman yang sama. Di mata Isnani, kesetaraan tidak bisa diajarkan melalui teks buku, ia harus dipraktikkan melalui sentuhan dan keberadaan.

Literasi yang Melampaui Huruf

Di ruang kelas yang bersahaja, definisi "literasi" mengalami perluasan makna. Jika di sekolah umum literasi adalah perihal mengeja A-B-C, bagi Isnani, literasi adalah perihal mengenal diri dan empati.

"Literasi adalah saat anak belajar mengenal dirinya, mengenal temannya, dan berani memahami perbedaan," tuturnya dengan suara yang tenang namun sarat ketegasan.

Mengajar di kelas inklusi membutuhkan cadangan kesabaran yang nyaris tanpa batas. Isnani mengisahkan bagaimana hari-harinya diwarnai dengan dinamika yang tak terduga. 

Tak jarang, seorang siswa dengan autisme mengalami tantrum di tengah pelajaran. Teriakannya mungkin memekakkan telinga bagi orang awam, namun bagi Isnani dan para pengajar di sana, itu adalah "bahasa" yang butuh diterjemahkan.

Dengan penuh kasih, Isnani akan mendekat, melakukan pendekatan fisik yang menenangkan, memeluk kegundahan sang anak hingga badai di kepalanya mereda. Fokusnya pun beragam; jika anak non-ABK disiapkan untuk mengenal angka demi jenjang SD, maka bagi anak ABK, keberhasilan bisa berarti sesederhana mereka mampu patuh atau mandiri memakai sepatu sendiri.

Menanam Empati, Menuai Bakti

Keajaiban di Desa Ringin Lari justru sering muncul dari hal-hal kecil. Isnani sering terenyuh saat melihat seorang anak non-ABK dengan telaten memandu temannya yang ABK untuk memegang pensil atau mengenal warna.

Di titik itulah, Isnani merasa misinya berhasil. Anak-anak ini belajar berempati bahkan sebelum mereka bisa mengeja kata "empati" itu sendiri. Mereka tumbuh menjadi pribadi yang tidak gagap saat bertemu dengan perbedaan fisik maupun mental.

Perjuangan sunyi Isnani ini tidak luput dari perhatian negara. Pada tahun 2017, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menyematkan penghargaan apresiasi kepadanya. 

Namun, bagi perempuan yang akrab disapa Sahabat PAUDPEDIA ini, piala dan piagam hanyalah benda mati. Penghargaan yang sesungguhnya adalah saat ia melihat orang tua siswa ABK kembali tegak kepalanya, percaya bahwa anak mereka memiliki masa depan yang sama cerahnya.

Ia ingin menghapus stigma yang menghantui para orang tua. "Anak-anak ini, terlepas dari keterbatasannya, memiliki hak yang sama dan mampu bersosialisasi," tegasnya.

Menolak Menyerah

Matahari mulai meninggi di Musuk, menyinari wajah Isnani yang masih sibuk membimbing siswanya. Meski raga memiliki batas, semangatnya seolah melampaui batas-batas fisik yang ada. Sepeda motor modifikasinya yang terparkir di depan sekolah adalah saksi bisu bahwa keterbatasan hanyalah soal sudut pandang.

Dari sebuah desa kecil di Boyolali, Isnani mengirimkan pesan kuat kepada dunia: bahwa budaya literasi bisa tumbuh di mana saja, bahkan di lahan yang paling tandus sekalipun. Pendidikan inklusi adalah cara ia memastikan bahwa dalam perjalanan menuju masa depan, tidak boleh ada satu pun anak yang tertinggal di belakang hanya karena mereka berbeda.

Saat bel pulang berbunyi, Isnani kembali naik ke atas motor roda tiganya. Ia bersiap menempuh jalanan berliku menuju rumah, membawa pulang rasa lelah yang dibayar tuntas oleh senyum anak-anaknya. Di Ringin Lari, literasi tidak lagi soal membaca buku, tapi soal membaca hati.

Penulis : Eko B Harsono 




Artikel Selanjutnya
Di Balik Harapan Menteri PPPA: Mampukah Sekolah Rakyat Bertahan?
Artikel Sebelumnya
Menembus Batas Upah Minimum: Memperjuangkan Hak Kerja Layak sebagai Jantung Kemanusiaan

Artikel Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar