Cari

Memetik Harapan di Ketinggian Arfak: Saat "Mama" Belajar Menjadi Guru


Schoolmedia News  ARFAK – Sore itu, angin dingin berdesir di antara lembah, membawa aroma tanah basah dan kabut yang mulai turun menyelimuti Kabupaten Pegunungan Arfak, Provinsi Papua Barat. Di pinggir jalan yang sepi, Gracia, seorang bocah perempuan berusia lima tahun, berdiri mematung. Tas sekolahnya tergeletak di dekat kaki, sementara seekor kucing berputar-putar dengan riang di sekelilingnya, seolah mengajak berteman.

Dari seberang jalan, sebuah suara memecah kesunyian. “Gracia, hati-hati saat menyeberang jalan!” seru Bertha, seorang guru yang dengan sigap mengawasi langkah kecil muridnya.

Di dalam bangunan sederhana Pusat Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD) Sinar Hungku, suasana seketika berubah hangat. Tawa anak-anak memenuhi ruangan, mengalahkan deru angin di luar. Satu per satu, mereka berbaris rapi, menyapa Bertha dengan tos dan tawa kecil. Sebuah rutinitas sederhana, namun bagi Bertha, itulah bahan bakar jiwanya.

“Hari yang baik adalah ketika saya tiba di sekolah dan anak-anak menyambut saya dengan senyum dan sapaan hangat,” tutur Bertha lembut sembari memeluk anak-anaknya. “Itu menjadi sumber motivasi bagi saya untuk lebih bersemangat dalam menyampaikan pelajaran dan mengorganisir kegiatan.”

Rapuhnya Fase Fondasi Anak Usia DIni

Namun, di balik keceriaan sore itu, tersimpan kenyataan pahit yang kerap menyelimuti pendidikan di pedalaman Papua Barat. Sekolah ini tidak selalu ramai. Di Arfak, pendidikan seringkali kalah bertarung dengan keadaan. Tingkat kehadiran anak berfluktuasi tajam, terkadang menurun drastis hingga menyisakan ruang kelas yang kosong melompong.

Penyebabnya beragam: mulai dari cuaca ekstrem yang membuat jalur setapak menjadi berbahaya, hingga tradisi di mana anak-anak harus ikut orang tua mereka bekerja di ladang. Namun, masalah yang paling mendasar adalah keterbatasan tenaga pendidik.

“Jumlah guru sangat terbatas, dan ketika mereka menghadapi kendala atau urusan keluarga, tidak ada guru lain yang bisa menggantikan,” jelas Bertha dengan raut wajah penuh keprihatinan.

Data menunjukkan potret yang mengkhawatirkan: hanya tiga dari setiap lima PAUD di Pegunungan Arfak yang dapat beroperasi secara konsisten sepanjang tahun ajaran. Sisanya terpaksa tutup sementara, menyerah pada kekurangan guru atau gangguan alam. Ketidakpastian ini membuat para orang tua cemas, tidak pernah tahu kapan pintu sekolah akan kembali terbuka untuk anak-anak mereka.


Tantangan Pedagogi dan Harapan Ayah 

Masalah bukan hanya soal kehadiran, tapi juga kapasitas. Sebagian besar pendidik di wilayah ini belum memiliki pelatihan formal di bidang pedagogi anak usia dini. Mengajar anak-anak usia 3-6 tahun membutuhkan pendekatan khusus yang interaktif, bukan sekadar instruksi kaku. Tanpa alat asesmen yang memadai, evaluasi hasil belajar—terutama bagi anak dengan disabilitas—menjadi tantangan yang nyaris mustahil ditaklukkan.

Taruhannya sangat besar. Tanpa akses terhadap pendidikan yang berkualitas dan inklusif, anak-anak Arfak terancam kehilangan kesempatan emas untuk mengembangkan keterampilan dasar seperti literasi dan numerasi. Dampaknya bersifat jangka panjang: menghambat perkembangan mental dan memperkecil peluang mereka untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.

Namun, di tengah segala keterbatasan, harapan tetap tumbuh subur. David, ayah Gracia, adalah salah satu orang tua yang menolak menyerah. Matanya menatap jauh ke puncak gunung saat ia berucap pelan, “Harapan saya, anak-anak saya memiliki masa depan yang lebih cerah dari saya.” Kepercayaan David pada pendidikan menjadi simbol keteguhan hati warga Arfak.

Bangun Jembatan Melalui Early Grade Learning

Menjawab jeritan dari lembah Arfak, sejak tahun 2024, UNICEF bersama Pemerintah Australia bermitra dengan pemerintah daerah untuk mengintervensi kualitas pembelajaran melalui program Early Grade Learning. Fokusnya jelas: memperkuat kapasitas guru agar mampu mengajar dengan cara bermain yang interaktif.

Kini, bahan ajar tidak lagi terasa asing. Guru mulai menyediakan materi yang relevan secara budaya, mendekatkan anak pada akar tradisi mereka sendiri. Selain itu, program ini membangun jembatan antara guru PAUD dan guru Sekolah Dasar (SD) guna memastikan transisi belajar anak-anak berjalan mulus tanpa hambatan psikologis.

Perubahan mulai terasa. Para guru melaporkan peningkatan kepercayaan diri. Mereka kini mampu memanfaatkan bahan-bahan lokal di sekitar pegunungan untuk dijadikan alat peraga pelajaran yang menarik. Kehadiran siswa pun mulai konsisten berkat metode belajar yang tidak lagi membosankan.

Maria, seorang fasilitator guru yang bertugas di wilayah tersebut, menceritakan bagaimana standarisasi mulai masuk ke ruang kelas. “Para guru sebelumnya belum mengetahui bahwa seharusnya ada Standar Operasional Prosedur (SOP) sebelum memulai kegiatan belajar,” jelasnya. “Dulu, guru hanya menjemput siswa agar bisa bersekolah lalu menyambut mereka saat masuk kelas. Sekarang, prosesnya jauh lebih terstruktur.”

Menjamin Keberlanjutan 

Upaya kolektif ini mulai mengetuk pintu kebijakan pemerintah daerah. Pejabat pendidikan setempat kini mempertimbangkan untuk memperluas pendekatan ini ke seluruh penjuru kabupaten. Sumber daya mulai dikerahkan untuk memantau kehadiran guru secara berkala dan mendorong keterlibatan orang tua yang lebih besar.

“Kami akan memastikan lebih banyak pelatihan dilaksanakan dan menjangkau lebih banyak guru, sehingga setiap anak di Pegunungan Arfak dapat merasakan pendidikan anak usia dini yang berkualitas,” tegas Kepala Seksi PAUD pada Dinas Pendidikan Kabupaten.

Saat matahari benar-benar tenggelam di balik punggung Arfak, sekolah Sinar Hungku perlahan sepi. Namun, ada yang berbeda malam ini. Ada keyakinan bahwa besok, pintu kelas akan kembali terbuka. Gracia dan kawan-kawannya tidak lagi sekadar menunggu di pinggir jalan tanpa tujuan; mereka sedang menunggu masa depan yang perlahan-lahan mulai benderang di atas puncak tertinggi Papua Barat.

Tim Schoolmedia

Artikel Sebelumnya
WALHI: Pemulihan Sumatra Tidak Boleh Berhenti di Pencabutan 28 Perizinan

Artikel Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar