Dari Kampung Bambu Jadi Pasar Minggu, Payungi Buktikan Warga Bisa Mengubah Wajah Desa
Schoolmedia News - Kampung Yosomulyo di Kota Metro, Lampung, memiliki kisah menarik tentang perubahan sebuah lingkungan melalui gotong royong dan kreativitas warga. Kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai lahan penuh bambu dan kurang termanfaatkan kini berkembang menjadi Pasar Yosomulyo Pelangi (Payungi), pasar kreatif yang ramai dikunjungi setiap hari Minggu.
Payungi pertama kali digelar pada 28 Oktober 2018. Pasar ini lahir dari inisiatif warga dan jamaah Mushola Sabilil Mustaqim dengan menghadirkan berbagai jajanan tradisional. Pada gelaran perdana, transaksi yang terkumpul mencapai sekitar Rp16,8 juta. Seiring waktu, Payungi berkembang menjadi salah satu ruang ekonomi kreatif berbasis masyarakat.
Keberhasilan Payungi tidak hanya bertumpu pada aktivitas jual beli. Warga secara rutin bergotong royong membersihkan kawasan, menata lingkungan, membuat berbagai fasilitas dari bambu, hingga mempercantik kampung. Semangat tersebut menjadi salah satu kekuatan utama Payungi dalam mengubah lingkungan sekaligus membangun rasa memiliki di antara warga.

Pasar ini juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha, khususnya melalui produk kuliner tradisional. Sejumlah program pendukung kemudian tumbuh, seperti Pesantren Wirausaha, Payungi University, Kampung Bahasa Payungi, Kampung Kopi, Women and Environment Studies, serta Rumah Anak Payungi. Kehadiran berbagai kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa Payungi berkembang bukan sekadar sebagai pasar, melainkan sebagai ruang pemberdayaan masyarakat.
Pemanfaatan media digital turut menjadi bagian penting dalam perjalanan Payungi. Pendampingan kepada warga dilakukan untuk meningkatkan kemampuan promosi melalui media sosial, desain grafis, penulisan berita, dan produksi video. Upaya tersebut membantu memperkenalkan produk serta aktivitas Payungi kepada masyarakat yang lebih luas.
Menariknya, kekuatan Payungi juga terletak pada semangat kebersamaan masyarakat yang beragam. Warga dari latar belakang berbeda dapat terlibat dalam pengembangan pasar dan bekerja sama untuk menciptakan ruang ekonomi kreatif. Hal ini memperlihatkan bahwa pemberdayaan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan toleransi dan kehidupan sosial yang harmonis.
Kini, kisah Payungi menjadi contoh bagaimana sebuah kampung dapat berubah ketika potensi lokal, kreativitas, teknologi digital, dan gotong royong dipadukan. Dari lahan yang dahulu dipenuhi bambu, lahir sebuah pasar Minggu yang bukan hanya menjadi tempat transaksi, tetapi juga ruang berkumpul, belajar, berkreasi, dan menggerakkan ekonomi warga.
Liputan Khusus Lainnya:
Tiffney Tyara Setyoko Ukir Sejarah, Mahasiswi Kedokteran UPH Juara 1 Pilmapres Nasional 2026
Mahasiswa Indonesia Ukir Prestasi di Kompetisi Matematika Dunia, Raih 2 Medali Perunggu di IMC 2026