
Schoolmedia News Jogyakarta = Tim mahasiswa lintas disiplin dari Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Inovasi teknologi pendeteksi bahan kimia pada pangan berbasis Kecerdasan Buatan (AI) membawa mereka meraih medali perak dalam ajang â2nd International Student Competitionâ yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 14â15 Februari 2026.
Kompetisi bergengsi yang diselenggarakan oleh Entrepreneurial Development and Graduate Marketability (CEM), Universiti Putra Malaysia (UPM) ini diikuti oleh peserta dari delapan negara, termasuk Nigeria, Suriah, Somalia, dan Kenya. Fokus utama ajang ini adalah mendorong lahirnya riset inovatif yang memiliki dampak sosial global serta prinsip keberlanjutan.
Solusi Cerdas Program Pangan
Tim yang menamakan diri mereka Foodscan ini menghadirkan solusi konkret bagi penguatan keamanan pangan nasional, khususnya untuk mendukung program unggulan pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ketua tim Foodscan, Melati Putri Ramadhani (Kimia FMIPA 2024), mengungkapkan bahwa metode pengujian pangan konvensional saat ini masih memiliki banyak kelemahan. "Pengujian kandungan kimia pada makanan masih didominasi oleh metode destruktif yang memakan waktu lama dan harus merusak sampel makanan yang diuji," jelas Melati.
Sebagai alternatif, Foodscan mengembangkan teknologi berbasis visual image yang bersifat non-destructive (tidak merusak). Dengan memanfaatkan algoritma Convolutional Neural Network (CNN), aplikasi ini mampu mengidentifikasi risiko bahan kimia berbahaya dan kontaminan hanya melalui unggahan foto produk pangan.
Integrasi Blockchain dan Transparansi Data
Tak hanya unggul di sisi deteksi cepat, Foodscan juga mengusung keamanan data tingkat tinggi dengan mengintegrasikan sistem blockchain. Langkah ini diambil untuk memastikan setiap riwayat pengujian tersimpan secara permanen, transparan, dan tidak dapat dimanipulasi.
"Terdapat pelacakan riwayat keamanan pangan secara real-time guna menjamin nutrisi berkelanjutan bagi anak-anak," tambah Melati dalam keterangan resminya, Kamis (19/2).
Saskia Aulia Ramadhani, anggota tim lainnya, menambahkan bahwa teknologi ini merupakan bentuk mitigasi dini terhadap penyakit akibat kontaminasi bahan kimia berbahaya. Ia berharap inovasi ini dapat menjadi standar baru dalam pengawasan keamanan pangan di sekolah-sekolah yang menjalankan program MBG.
Kolaborasi Lintas Disiplin Ilmu
Keberhasilan ini merupakan buah manis dari kolaborasi berbagai bidang ilmu di UGM. Selain Melati dan Saskia, tim ini diperkuat oleh:
Nisrina Athyra Karimah (Prodi Gizi, FK-KMK)
Sahda Huwaidah Estiningtyas (Statistika, FMIPA)
Naufal Septio Fathurrahman (Teknologi Informasi, Fakultas Teknik)
Di bawah bimbingan dosen Departemen Kimia FMIPA UGM, Mokhammad Fajar Pradipta, S.Si., M.Eng, tim Foodscan berhasil menyisihkan puluhan pesaing dari berbagai negara dalam kategori essay dan paper ilmiah.
"Kami berencana mengembangkan inovasi ini lebih jauh ke ranah industri keamanan pangan dan menjajaki kolaborasi internasional dengan jejaring yang kami temui selama kompetisi di Malaysia," pungkas Saskia.
Prestasi ini membuktikan bahwa mahasiswa Indonesia mampu merespons tantangan nasional melalui penguasaan teknologi mutakhir seperti AI dan Blockchain, sekaligus menempatkan UGM sebagai pionir dalam inovasi ketahanan pangan dunia.
Tim Schoolmedia
Tinggalkan Komentar