Ilustrasi pihak keamanan melakukan penyisiran di daerah konflik, Foto: Pixabay
Sekitar 80-an guru SD, SMP, dan SMA yang mengajar di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua dilaporkan ikut mengungsi bersama para siswanya ke Kabupaten Jayawijaya pascakontak tembak antara Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dengan personel TNI/Polri.
Berdasarkan informasi terakhir yang diterima dari seorang guru Nduga di Jayawijaya, jumlah guru yang mengungsi sekitar 80-an orang.
Guru-guru tersebut belum bisa memberikan pernyataan terkait situasi mereka hadapi, karena masih menunggu pernyataan dari pejabat Dinas Pendidikan Nduga.
"Kami belum bisa berikan pernyataan, nanti kepala dinas saja yang kasih komentar," kata seorang guru yang tidak menyebutkan namanya, Rabu, 13 Februari 2019.
Koordinator Tim Relawan Pengungsian Nduga Ence Geong, di Sinakma, Kabupaten Jayawijaya mengatakan staf Dinas Pendidikan Nduga masih mendata keseluruhan guru yang mengungsi.
"Jumlah guru ada 120 menurut data Dinas Pendidikan Nduga. Tetapi yang ditempatkan di sini mereka masih atur. Mereka akan tersebar di 12 kelas, namun masih akan diatur lagi per kelasnya," kata Ence.
Guru-guru yang mengungsi ini, Ence menjelaskan, sebelumnya mengajar di 10 sekolah dasar, 5 sekolah menengah pertama, dan 2 sekolah menengah atas di Nduga.
Di lokasi pembangunan 12 ruang sekolah darurat untuk anak-anak pengungsi Nduga di Jayawijaya, didapatkan sejumlah guru yang bukan penduduk lokal Nduga. Mereka selalu hadir untuk mengajar para siswa setempat.
Sekolah darurat sudah mulai berjalan pada 11 Februari, dan jumlah siswa pengungsi yang terdata hingga saat ini sebanyak 406 orang.
Para siswa di tempat tersebut merasa trauma dengan aktivitas baku tembak serta bunyi tembakan, sehingga mereka memilih lari meninggalkan kampung halaman tanpa membawa peralatan sekolah seperti buku dan pensil.
"Tapi kami bersyukur guru-guru menyumbang, sehingga setiap anak mendapat satu buku dan satu alat tulis," kata Ence.
Informasi terakhir juga menyebutkan bahwa Kepala Dinas Pendidikan Nduga belum mengunjungi sekolah darurat itu, karena masih berada di luar Papua.
Tinggalkan Komentar