Ketika Al-Qur'an Dijadikan Gimik Promosi, Etika di Ruang Publik Jadi Sorotan

Schoolmedia News – Penggunaan hafalan Surah Ad-Duha dalam sebuah aktivitas promosi di festival musik kawasan Ancol, Jakarta, menuai kontroversi. Pasalnya, tantangan tersebut dikaitkan dengan pemberian hadiah berupa produk minuman beralkohol.
Video aktivitas tersebut kemudian beredar luas di media sosial dan memunculkan berbagai respons dari masyarakat. Polisi turut mendalami kejadian tersebut, sementara Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam penggunaan ayat Al-Qur'an dalam aktivitas promosi tersebut.
Berawal dari Konten yang Viral
Peristiwa ini mencuat setelah video yang merekam aktivitas di salah satu booth festival tersebar di media sosial.
Dalam video tersebut, pengunjung mengikuti tantangan menghafalkan Surah Ad-Duha yang kemudian dikaitkan dengan hadiah dari produk yang dipromosikan.
Konten tersebut dengan cepat menjadi perbincangan. Persoalan yang awalnya berlangsung di lokasi acara kemudian berkembang menjadi perdebatan mengenai batas kreativitas promosi dan penghormatan terhadap nilai keagamaan.
MUI Kritik Penggunaan Al-Qur'an
MUI menyampaikan kritik terhadap penggunaan hafalan Al-Qur'an sebagai bagian dari aktivitas promosi.
Bagi umat Islam, Al-Qur'an memiliki kedudukan yang sangat penting dan sakral. Karena itu, penggunaan ayat atau hafalan Al-Qur'an dalam konteks komersial yang dianggap tidak sesuai dengan nilai keagamaan dapat menimbulkan keberatan.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa strategi pemasaran perlu mempertimbangkan aspek agama, budaya, dan norma sosial yang hidup di tengah masyarakat.
Kreativitas Promosi Tetap Memiliki Batas
Dalam industri pemasaran, konsep yang unik dan berbeda memang dapat menarik perhatian publik. Namun, strategi promosi tidak bisa hanya mengutamakan unsur viral.
Setiap ide perlu mempertimbangkan dampak yang mungkin muncul, terutama jika menyentuh simbol agama atau nilai yang dianggap sensitif oleh masyarakat.
Sebuah kampanye dapat memperoleh perhatian besar, tetapi apabila cara yang digunakan menimbulkan kontroversi, dampaknya justru dapat berbalik menjadi persoalan reputasi.
Penyelenggara Ikut Merespons
Pihak penyelenggara festival menyatakan tidak membenarkan aktivitas yang menggunakan unsur agama sebagai bagian dari tantangan promosi.
Penyelenggara juga mengambil langkah terhadap pihak yang berkaitan dengan aktivitas tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pengawasan terhadap tenant, sponsor, maupun aktivitas promosi merupakan bagian penting dalam penyelenggaraan acara publik.
Penyelenggara tidak hanya bertanggung jawab terhadap kelancaran acara, tetapi juga perlu memastikan kegiatan di dalamnya tetap menghormati norma dan aturan yang berlaku.
Polisi Masih Mendalami Kejadian
Kepolisian juga melakukan pendalaman untuk mengetahui kronologi secara lebih jelas.
Karena proses pemeriksaan masih berjalan, masyarakat perlu membedakan antara informasi awal, dugaan, dan fakta yang telah dikonfirmasi secara resmi.
Pemberitaan mengenai kasus yang sedang diselidiki juga perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan kesimpulan yang belum memiliki dasar hukum.
Pelajaran bagi Dunia Pemasaran
Kasus ini memberikan pelajaran bagi pelaku usaha bahwa pemasaran tidak hanya berkaitan dengan bagaimana sebuah produk mendapatkan perhatian.
Reputasi dan kepercayaan masyarakat juga menjadi bagian penting dari keberhasilan sebuah kampanye.
Sebelum menggunakan simbol agama, budaya, atau isu sensitif sebagai bagian dari promosi, pelaku usaha perlu melakukan pertimbangan secara matang. Kreativitas seharusnya tetap berjalan bersama tanggung jawab.
Media Sosial Memperbesar Dampak
Perkembangan media sosial membuat sebuah aktivitas dapat diketahui masyarakat luas dalam waktu singkat.
Konten yang awalnya hanya disaksikan pengunjung festival dapat berubah menjadi perbincangan publik setelah direkam dan dibagikan secara daring.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaku usaha dan penyelenggara acara perlu menyadari bahwa aktivitas di ruang publik memiliki potensi untuk didokumentasikan dan disebarluaskan.
Pentingnya Literasi Digital
Kasus ini juga menjadi pembelajaran bagi pengguna media sosial, khususnya generasi muda.
Ketika menemukan konten kontroversial, masyarakat sebaiknya tidak langsung mengambil kesimpulan berdasarkan potongan video. Konteks, sumber, waktu kejadian, dan keterangan pihak terkait perlu diperiksa terlebih dahulu.
Kemampuan memilah informasi menjadi semakin penting di tengah cepatnya penyebaran konten digital.
Menghormati Nilai Keagamaan
Kontroversi ini pada akhirnya menunjukkan bahwa kreativitas memiliki batas ketika berhadapan dengan nilai yang dianggap sakral oleh masyarakat.
Penggunaan simbol keagamaan dalam aktivitas komersial membutuhkan kepekaan dan pertimbangan yang lebih mendalam.
Promosi yang efektif bukan hanya yang mampu menciptakan perhatian, tetapi juga yang dapat membangun citra positif tanpa mengabaikan nilai agama, budaya, etika, dan rasa hormat kepada masyarakat.
_
Sumber:
https://megapolitan.kompas.com/read/2026/08/13/07250041/ketika-al-quran-dijadikan-gimik-mirasLiputan Khusus Lainnya:
Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal Gubernur BI, Ini Rekam Jejak dan Tantangannya
Kebakaran Bromo Meluas hingga Disorot Media Asing, Alarm Serius untuk Pariwisata dan Lingkungan