
Schoolmedia News Jakarta = Pagi itu, suara tawa anak-anak terdengar lirih dari sebuah tenda berwarna putih yang berdiri di tengah area pengungsian. Lantai beralaskan tikar, papan tulis seadanya, dan bangku plastik menggantikan ruang kelas yang dulu kokoh berdiri. Di tempat sederhana inilah, proses belajar kembali dimulaiâbukan sekadar untuk mengejar pelajaran, tetapi juga untuk memulihkan luka yang tak selalu terlihat.
Bencana yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat tidak hanya meruntuhkan rumah dan sekolah, tetapi juga mengguncang dunia anak-anak. Rasa takut, kehilangan, dan ketidakpastian menjadi bagian dari keseharian mereka. Dalam situasi inilah, pendidikan darurat hadir sebagai jembatan pemulihan, mengembalikan rutinitas, rasa aman, dan harapan.
Pemerintah mencatat ribuan sekolah terdampak bencana dan puluhan di antaranya harus menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar di tenda darurat. Meski jauh dari kata ideal, tenda-tenda ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak boleh berhenti, bahkan di tengah keterbatasan.
Namun, pembelajaran di tenda darurat tidak sekadar memindahkan kurikulum ke ruang sementara. Pendekatan yang digunakan harus berbeda, lebih manusiawi dan berorientasi pada kondisi psikologis anak. Anak-anak yang datang ke tenda belajar membawa cerita masing-masingâkehilangan rumah, berpisah dari anggota keluarga, atau menyaksikan langsung peristiwa traumatis.
Menurut Dr. Ratna Dewi, psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang turun langsung mendampingi anak-anak di lokasi, pendidikan darurat adalah âlebih dari transfer ilmu.â Ia menjelaskan bahwa kegiatan belajar di tenda darurat harus menjadi ruang aman, di mana anak-anak merasa dihargai, didengar, dan dipahami.
âPembelajaran di tenda darurat bukan sekadar mata pelajaran. Ini tentang membangun kembali rasa aman, memulihkan keteraturan dalam hidup mereka, dan memberi mereka kesempatan untuk mengekspresikan emosi yang mungkin terpendam setelah bencana,â ujar Dr. Ratna Dewi.
Dalam praktiknya, kegiatan belajar sering dimulai bukan dengan buku pelajaran, melainkan melalui permainan, bernyanyi bersama, menggambar, atau bercerita. Aktivitas-aktivitas ini membantu anak untuk membuka diri dan mulai mempercayai lingkungan di sekitarnya lagi.
Pendekatan ini juga diamini oleh Prof. Ahmad Hidayat dari Universitas Sumatera Utara (USU), yang memimpin tim psikologi di salah satu titik pengungsian. Menurutnya, anak-anak yang mengalami trauma pascabencana sering menunjukkan gejala stres yang beragamâmulai dari ketakutan berlebihan hingga susah berkonsentrasi.
âDalam kondisi seperti ini, tugas guru dan pendamping bukan hanya mengajar, tetapi mendampingi. Memberi ruang bagi anak untuk merasa aman, dan perlahan membantu mereka kembali berfokus pada kegiatan belajar,â kata Prof. Ahmad Hidayat.
Kedua ahli psikologi ini bekerja sama dengan NGO internasional seperti Plan International dan Save the Children, yang sudah lama bergerak dalam program pendidikan darurat dan perlindungan anak. Keterlibatan NGO ini membawa tenaga ahli, materi pembelajaran adaptif, serta dukungan logistik yang signifikan.
Perwakilan Plan International, Siti Nurhayati, menjelaskan bahwa organisasi mereka membantu menyediakan modul pembelajaran yang ramah trauma, alat peraga pendidikan, serta pelatihan bagi guru dan relawan.
âFokus kami bukan hanya pendidikan akademik, tetapi juga pemulihan psikososial. Kami menyediakan materi yang membantu anak berinteraksi, mengekspresikan perasaan, dan merasa aman di lingkungan baru ini,â jelas Siti.
Save the Children, melalui koordinator lapangan Michael Jensen, menambahkan bahwa program mereka juga mencakup pelatihan respon psikososial berbasis komunitas. Ini mencakup sesi khusus untuk anak yang menunjukkan tanda-tanda tekanan emosional berat, serta workshop untuk orang tua agar dapat mendukung anak di rumah.
âAnak yang trauma butuh lebih dari sekadar ruang belajar. Mereka butuh ruang untuk berbicara, didengarkan, dan dipahami. Pendidikan darurat adalah upaya holistik untuk memastikan hak mereka tetap terpenuhi,â ujar Michael.
Dalam tenda darurat itu, durasi pembelajaran dibuat lebih singkat dan fleksibel. Materi pelajaran difokuskan pada penguatan literasi dan numerasi dasar, diselingi aktivitas kreatif yang mendorong ekspresi emosi. Penilaian formal diminimalkan, digantikan dengan observasi perkembangan sikap dan keterlibatan anak.
Selain menjadi ruang belajar, tenda darurat berfungsi sebagai lingkungan aman yang melindungi anak dari risiko lanjutan pascabencana, seperti kejenuhan berkepanjangan, potensi kekerasan, hingga eksploitasi. Kehadiran relawan dan tenaga pendidik yang peka trauma sangat membantu anak untuk bertumbuh kembali.
Kolaborasi menjadi kunci utama dalam upaya ini. Guru, orang tua, relawan, tenaga kesehatan, dan organisasi masyarakat bekerja bersama menciptakan suasana belajar yang kondusif. Orang tua yang awalnya ragu melepas anaknya kini justru aktif mendampingi, duduk di sekitar tenda, menyaksikan anak-anak mereka kembali tersenyum.
Bagi banyak anak, tenda darurat bukan sekadar ruang belajar sementara. Ia menjadi simbol keberlanjutan hidup, tempat di mana rutinitas kembali dibangun di tengah kekacauan. Dari tenda itulah, anak-anak belajar tentang ketangguhan, kebersamaan, dan harapan.
Pendidikan darurat menjadi salah satu prioritas dalam penanganan pascabencana, seiring upaya rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah yang terus berlangsung. Aktivitas belajar di tenda darurat akan tetap dilaksanakan hingga ruang kelas permanen siap digunakan. Prinsipnya jelas: tidak ada anak yang tertinggal dari akses pendidikan.
Ketika bel sekolah belum bisa berbunyi di gedung permanen, suara anak-anak di bawah tenda menjadi penanda bahwa masa depan masih diperjuangkan. Di antara terik matahari dan angin sore yang menerpa tenda, pendidikan darurat hadir bukan hanya untuk mengajar membaca dan berhitung, tetapi untuk menyembuhkan, menguatkan, dan menumbuhkan kembali mimpi anak-anak pascabencana.
Dari tenda sederhana itulah, harapan perlahan dibangun kembaliâpelan, rapuh, tetapi penuh makna.
Pembelajaran di tenda darurat tidak dapat disamakan dengan proses belajar di ruang kelas normal. Pendekatan yang digunakan harus adaptif, fleksibel, dan berorientasi pada pemulihan psikososial anak. Anak-anak yang terdampak bencana tidak hanya kehilangan ruang belajar, tetapi juga mengalami tekanan emosional, rasa takut, dan ketidakpastian.
Oleh karena itu, prioritas utama pembelajaran di tenda darurat adalah menciptakan rasa aman dan nyaman. Guru perlu membangun suasana yang hangat, tidak menekan, dan penuh empati. Kegiatan belajar sebaiknya diawali dengan aktivitas ringan seperti permainan edukatif, bercerita, bernyanyi, atau menggambar, yang membantu anak mengekspresikan perasaan mereka secara alami.
Durasi belajar dibuat lebih singkat dan fleksibel, menyesuaikan kondisi fisik dan mental siswa. Fokus pembelajaran bukan pada pencapaian kurikulum secara penuh, melainkan pada penguatan literasi dasar, numerasi sederhana, serta pembiasaan aktivitas positif. Penilaian akademik formal sebaiknya diminimalkan untuk menghindari tekanan tambahan.
Pemulihan psikososial dapat diintegrasikan ke dalam proses belajar melalui kegiatan kelompok, diskusi sederhana, dan permainan kolaboratif yang menumbuhkan rasa kebersamaan dan dukungan sosial. Kehadiran relawan psikososial atau guru yang telah mendapatkan pelatihan trauma healing sangat membantu dalam mendampingi anak-anak yang menunjukkan tanda stres pascabencana.
Selain itu, kolaborasi antara guru, orang tua, relawan, dan tenaga kesehatan menjadi kunci keberhasilan pembelajaran di tenda darurat. Dengan pendekatan yang manusiawi dan berpusat pada anak, tenda darurat tidak hanya menjadi tempat belajar sementara, tetapi juga ruang aman untuk memulihkan kepercayaan diri, semangat, dan harapan anak-anak menuju masa depan yang lebih baik.
Tim Schoolmedia
Tinggalkan Komentar