Sumber: kemenang.go.id
Co-President of World Conference on Religions for Peace (Religions for Peace International) Din Syamsuddin menganjurkan perlunya teologi bersama (shared theology) tentang kemajemukan, hidup berdampingan secara damai, toleransi, dan kerukunan. Dalam pesan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Din tampil sebagai pembicara pada pertemuan para tokoh agama-agama dunia di Moskow, 25 Maret 2019.
Menurut Din yang juga President of Asian Conference on Religions for Peace (ACRP) itu, agama-agama, walau ada perbedaan pada sistem kredo, yakni konsepsi tentang Tuhan, memiliki titik singgung tentang kemajemukan, koeksistensi, toleransi, dan kerukunan. Titik singgung itu, kata Din, hanya dapat dilihat jika keberagamaan sejati diletakkan pada kemanusiaan.
"Beragama sejatinya untuk manusia dan kemanusiaan," kata Din, Rabu, 26 Maret 2019.
Baca juga: 89,1 Persen Kaum Milenial Optimistis Keberagaman di Indonesia
Menurut Ketua Dewan Pertimbangan MUI itu, Islam menekankan aspek humanis keberagamaan tersebut. Hal itu, kata Din menjelaskan, dapat dipahami dari pernyataan Al Qur'an bahwa misi kerasulan Muhammad SAW adalah menyebar rahmat bagi seluruh umat manusia, bahkan alam semesta (rahmatan lil 'alamin).
Maka, menurut Din, sudah saatnya dikembangkan teologi kerukunan bahkan antaragama yang berbasis pada humanisme religius itu.
Ia optimistis jika teoligi semacam itu dikembangkan atau diarusutamakan sehingga sebagian masalah peradaban manusia dan kemanusiaan dapat ditanggulangi.
Baca juga: Kedubes UEA: Kunjungan Paus Fransiskus Promosikan Toleransi Antarumat Beragama
Dalam pertemuan sehari di Moskow itu, mengambil tema Ways to Achieve Interreligious Peace: Roles of Theologians, Diplomat, and Public Figures. Pertemuan diselenggarakan bersama Kantor Dewan Mufti Russia, Russian Orthodox Church, dan ISESCO, dihadiri sekitar 150 tokoh berbagai agama dari berbagai negara di dunia
Tinggalkan Komentar