Tren Healing ke Puncak: Kenapa Mendaki Gunung Jadi Pilihan Pelarian Favorit Gen Z?
Beberapa tahun lalu, aktivitas mendaki gunung atau hiking identik sebagai hobi eksklusif para pendaki senior atau anggota pencinta alam yang membawa ransel besar berbobot puluhan kilogram. Namun, pemandangan tersebut kini jauh bergeser. Tengok saja lini masa TikTok atau Reels Instagram—kolom explore dipenuhi oleh reels perjalanan sunrise di atas awan, foto tenda estetik di kaki gunung, hingga istilah-istilah baru seperti sundaysing dan slow hiking yang digandrungi anak muda.
Mengapa mendaki gunung mendadak bertransformasi menjadi tren gaya hidup (lifestyle) yang sangat viral di kalangan Gen Z? Mari kita bedah berdasarkan data dan fenomena sosial yang terjadi di lapangan.
1. Dari Hobi Ekstrem Menjadi Pelarian dari Burnout Digital
Berdasarkan data dari berbagai pengelola taman nasional dan jalur pendakian resmi di Indonesia dalam beberapa musim terakhir, terjadi lonjakan signifikan pada jumlah pendaki berusia di bawah 25 tahun (usia remaja akhir hingga mahasiswa).
Bagi Gen Z, mendaki gunung bukan lagi sekadar kegiatan penaklukan puncak demi prestise, melainkan bentuk nyata pelarian diri (escapism) dari tekanan burnout akademik dan kepenatan layar gawai (screen fatigue). Berada di zona tanpa sinyal internet (offline mode) selama beberapa hari terbukti menjadi terapi psikologis yang efektif untuk meredakan kecemasan sosial dan stres perkotaan.

2. Wajah Baru Pendakian: Tren Ultralight dan Aesthetic Camping
Dulu, persiapan mendaki gunung memakan biaya besar dan persiapan logistik yang kaku. Kini, industri perlengkapan outdoor lokal mengalami pertumbuhan pesat berkat inovasi produk-produk ultralight (ringan) yang ramah di kantong pelajar.
Selain itu, pengaruh aesthetic culture membuat kegiatan camping di lereng gunung dikemas lebih nyaman. Mulai dari penggunaan tenda terowongan transparan, peralatan memasak portabel yang praktis, hingga pakaian hangat dengan warna bumi (earth tone) yang fotogenik membuat aktivitas ini sukses mendulang engagement tinggi di media sosial.
3. Sisi Gelap Tren: Tantangan Konservasi dan Ecotourism
Di balik viralnya tren mendaki gunung, tersimpan pekerjaan rumah besar bagi industri pariwisata alam. Lonjakan jumlah pendaki pemula sering kali diiringi oleh masalah klasik: volume sampah plastik yang tertinggal di jalur pendakian dan kerusakan ekosistem flora-fauna lokal akibat kurangnya edukasi etika alam bebas (Leave No Trace).
Fenomena ini memicu gerakan tandingan dari komunitas pendaki muda untuk mengampanyekan responsible hiking—mendaki dengan kesadaran penuh menjaga kebersihan dan kelestarian alam, bukan sekadar demi konten semata.
4. Nilai Positif untuk Karakter Remaja
Terlepas dari motif estetika dan konten media sosial, mendaki gunung menyimpan pembelajaran karakter yang tidak bisa diajarkan di dalam ruang kelas:
- Membangun Ketahanan Mental (Resilience): Mengatasi rasa lelah berjalan kaki berjam-jam mengajarkan arti pantang menyerah.
- Kerja Sama Tim: Belajar saling mengandalkan dalam kelompok saat menghadapi cuaca ekstrem atau jalur yang licin.
- Empati Lingkungan: Menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan alam, sehingga tumbuh rasa hormat terhadap kelestarian lingkungan hidup.
- Mendaki gunung kini bukan lagi tentang seberapa tinggi puncak yang berhasil dicapai, melainkan tentang bagaimana kita melambat sejenak, bernapas di udara segar, dan menemukan kembali kewarasan di tengah bisingnya dunia digital.
Sumber: Analisis Tren Lapangan & Data Pariwisata Alam
Penyunting: Athalla
Foto: Hanya sebagai ilustrasi (Sumber: Unsplash/Pexels)
Artikel Lainnya:
Budaya "Nongkrong Sambil Ngopi": Menelisik Tren Konsumsi Kopi di Kalangan Anak Muda dan Dampaknya bagi Kesehatan
Otak Encer Saat Ujian: 5 Pilihan Makanan dan Minuman Terbaik untuk Menjaga Fokus Belajar
Mengenal Apa Itu "Sadap" Ponsel: Modus Kejahatan Digital dan Cara Simpel Melindungi Diri