Memasuki Bulan Hantu 2026, Kenali Asal-usul dan Tradisi yang Masih Dilestarikan
Schoolmedia News – Memasuki bulan ketujuh dalam kalender lunar Tionghoa, masyarakat keturunan Tionghoa mengenal periode ini sebagai Bulan Hantu atau Ghost Month. Pada 2026, rangkaian Bulan Hantu berlangsung pada bulan ketujuh kalender lunar dan mencapai puncaknya melalui Hungry Ghost Festival atau Festival Hantu Lapar pada 27 Agustus 2026.
Bulan Hantu merupakan tradisi yang memiliki hubungan erat dengan penghormatan kepada leluhur. Dalam kepercayaan dan tradisi masyarakat Tionghoa, periode ini dikaitkan dengan keyakinan bahwa dunia manusia dan dunia arwah memiliki hubungan yang lebih dekat.
Puncak perayaan berlangsung pada hari ke-15 bulan ketujuh kalender lunar yang dikenal sebagai Zhongyuan Jie atau Festival Hantu Lapar. Tradisi tersebut juga dikenal dengan berbagai nama di sejumlah komunitas, termasuk Cioko atau Sembahyang Rebutan di Indonesia.
Asal-usul Bulan Hantu
Tradisi Bulan Hantu berkembang dari perpaduan kepercayaan masyarakat Tionghoa dengan pengaruh Taoisme dan Buddhisme. Salah satu kisah yang terkenal dalam tradisi Buddhis berkaitan dengan legenda Mulian, yang melakukan persembahan untuk membantu ibunya dan arwah lainnya memperoleh kedamaian.
Dalam perkembangannya, tradisi ini menjadi momentum untuk menunjukkan penghormatan kepada leluhur sekaligus berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Nilai tersebut membuat Bulan Hantu tidak hanya dipandang sebagai tradisi spiritual, tetapi juga memiliki pesan mengenai bakti, keluarga, dan kepedulian sosial.

Tradisi yang Dilakukan
Salah satu tradisi yang umum dilakukan selama Bulan Hantu adalah memberikan persembahan makanan dan minuman. Di sejumlah daerah, masyarakat juga melakukan sembahyang untuk menghormati leluhur dan arwah yang diyakini tidak memiliki keluarga untuk mendoakannya.
Tradisi lainnya adalah membakar kertas sembahyang atau joss paper. Dalam konteks kepercayaan yang melatarinya, kertas tersebut dipersembahkan secara simbolis sebagai bekal bagi arwah.
Di Indonesia, khususnya dalam sejumlah komunitas Tionghoa, dikenal pula tradisi sembahyang rebutan. Setelah prosesi sembahyang selesai, makanan yang telah dipersembahkan dapat dibagikan kepada masyarakat. Tradisi ini sekaligus memperkuat nilai berbagi dan kebersamaan.
Di beberapa wilayah, masyarakat juga melakukan ziarah dan membersihkan makam leluhur. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan antargenerasi serta mengingat jasa keluarga yang telah meninggal. Tradisi sembahyang kubur pada Bulan Hantu masih dijalankan oleh komunitas Tionghoa di berbagai daerah Indonesia.
Bukan Sekadar Tradisi Mistis
Meski istilah "Bulan Hantu" terdengar menyeramkan, tradisi ini memiliki makna budaya yang lebih luas. Bagi masyarakat yang menjalankannya, Bulan Hantu menjadi kesempatan untuk mengenang leluhur, mempererat hubungan keluarga, serta meneruskan nilai budaya kepada generasi berikutnya.
Tradisi tersebut juga menunjukkan bagaimana warisan budaya dapat bertahan di tengah perkembangan zaman. Anak-anak dan generasi muda dapat mengenal sejarah keluarga serta nilai penghormatan kepada leluhur melalui keterlibatan dalam berbagai kegiatan budaya.
Bulan Hantu 2026 pun menjadi momentum untuk melihat tradisi ini bukan hanya dari sisi mitologi, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan budaya Tionghoa yang mengandung nilai penghormatan, bakti kepada keluarga, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama.
_
Artikel Lainnya:
Mitos atau Fakta? 10 Anggapan yang Sering Dipercaya Pelajar, Mana yang Benar?