Cari

Mengabdi di Perbatasan, Kisah 4 Guru Lintas Agama di Wilayah 3T Kalimantan Utara

NUNUKAN, Schoolmedia News — Di ufuk utara Kalimantan, saat fajar menyapu kabut di puncak-puncak perbukitan Krayan, deru mesin pesawat perintis menjadi satu-satunya pengingat bahwa dunia luar masih terhubung. Namun, bagi masyarakat di garis batas negara, kemerdekaan yang sesungguhnya bukan datang dari logistik yang mendarat di landasan pacu tanah, melainkan dari secercah cahaya ilmu yang dijaga agar tidak padam.

Di balik peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026, tersimpan kisah-kisah sunyi dari wilayah perbatasan di Kalimantan Utara. Di tengah keterbatasan akses dan fasilitas, para guru agama tetap setia menyalakan cahaya bagi generasi muda di perbatasan negeri. Mereka adalah benteng terakhir yang memastikan bahwa moral dan harapan anak-anak bangsa tidak tergerus oleh isolasi geografis.

Panggilan Hidup di Desa Adat Dayak Kalimantan

Di Krayan, Kabupaten Nunukan, Ronny (52) telah menapaki jalan pengabdian selama 26 tahun sebagai guru agama Kristen. Wilayah ini hanya bisa dijangkau dengan penerbangan kecil atau melalui jalur darat yang ekstrem melintasi perbatasan Malaysia. Medan yang sulit dan akses terbatas tak menghalanginya.

Bagi Ronny, mengajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hidup. Ia hadir untuk menanamkan nilai-nilai yang ia yakini akan membimbing anak-anak melampaui batas geografis mereka. Ia seringkali harus menjadi sosok ayah sekaligus guru bagi murid-muridnya yang bermimpi melihat dunia di luar rimba Kalimantan.

“Di Hari Pendidikan Nasional ini, saya berharap anak-anak di perbatasan semakin mendapat perhatian yang sama. Mereka punya mimpi besar, hanya perlu didukung agar bisa berkembang,” ujar Ronny, Sabtu (2/5/2026).

Kisah serupa mengalir dari Sembakung. Selama 21 tahun, Halifah menjalani perannya sebagai guru Pendidikan Agama Islam dengan keteguhan yang nyaris tak terlihat, namun terasa dampaknya. Perjalanan menyusuri sungai menggunakan ketinting, menghadapi banjir kiriman yang kerap merendam sekolah, hingga minimnya sarana menjadi bagian dari keseharian.

Namun, semangatnya tetap utuh. Baginya, melihat perubahan perilaku dan spiritualitas siswa adalah upah yang melampaui materi. “Melihat anak-anak mulai mempraktikkan ibadah dengan benar dan menunjukkan akhlak yang baik adalah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan apa pun,” tutur Halifah.

Harmoni dan Inovasi dari Desa

Tak hanya di pelosok hutan, tantangan pendidikan agama juga dirasakan di pusat-pusat pertumbuhan. Di Tanjung Selor, Puji Astuti telah lebih dari dua dekade mengabdi sebagai guru agama Buddha di SDN 001. Di tengah fasilitas yang lebih memadai dibandingkan sejawatnya di pedalaman, ia menyaksikan harmoni lintas agama tumbuh alami di lingkungan sekolah.

Namun, tantangan tetap ada, terutama ketika siswa beragama Buddha tersebar akibat sistem zonasi, yang menuntutnya untuk ekstra lincah dalam menjangkau setiap anak didik. “Semoga ke depan pendidikan semakin inklusif dan semua peserta didik mendapatkan layanan yang adil, tanpa terkecuali,” harap Puji.

Sementara itu, dari Desa Sesua, Malinau Barat, Anselmus Helaq menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Selama 21 tahun sebagai guru agama Katolik, ia terus mencari cara agar nilai-nilai iman dapat dipahami dan dihayati oleh siswa-siswinya melalui pendekatan yang kontekstual dengan budaya lokal.

“Saya berharap pendidikan kita terus maju dengan tetap menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual,” ungkap Anselmus.

Penjaga Nilai Kemanusiaan

Kisah-kisah ini memperlihatkan wajah lain pendidikan di perbatasan. Di sana, mengajar bukan hanya tentang mentransfer ilmu, tetapi membentuk manusia seutuhnya: berkarakter, beriman, dan berdaya. Mereka adalah perekat keberagaman di wilayah yang rentan terhadap pengaruh luar.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara, Muh. Saleh, menegaskan bahwa para guru agama di wilayah perbatasan memegang peran strategis dalam menjaga nilai dan harmoni bangsa.

“Di Hari Pendidikan Nasional ini, kita diperingatkan bahwa pendidikan bukan hanya soal ilmu, tetapi juga tentang karakter dan spiritualitas. Para guru di perbatasan telah menunjukkan dedikasi luar biasa. Mereka adalah penjaga nilai dan harapan bangsa,” ujar Saleh.

Saleh juga menegaskan komitmen Kementerian Agama untuk terus memberikan perhatian dan dukungan bagi para guru, khususnya di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T), agar pendidikan semakin merata dan berkualitas. Dukungan ini diharapkan tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menyentuh kesejahteraan dan fasilitas penunjang pengabdian mereka.

Dari perbatasan Kalimantan Utara, para guru itu mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: bahwa pendidikan yang lahir dari ketulusan akan selalu menemukan jalannya, menembus batas, dan menerangi masa depan Indonesia. Di tangan merekalah, meski dalam sunyi, Indonesia tetap tegak di garis terdepannya.

Artikel Sebelumnya
Kisah Azril, Si Bocah 'Cemong' yang Temukan Ceria Hardiknas di TK Dharma Wanita Kaloran

Artikel Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar