Cari

76 SATUAN PENDIDIKAN DIREVITALISASI, PEMBELAJARAN TERUS BERJALAN MESKI DI TENDA DARURAT


 

76 SATUAN PENDIDIKAN DIREVITALISASI, PEMBELAJARAN TERUS BERJALAN MESKI DI TENDA DARURAT

Schoolmedia News Aceh = Pascabencana tidak hanya meninggalkan bekas kerusakan fisik pada bangunan sekolah, tetapi juga trauma, kecemasan, dan keraguan bagi anak-anak untuk kembali belajar. Di tengah situasi tersebut, pendidikan berperan sebagai ruang penting untuk memulihkan rasa aman dan keberlanjutan pembelajaran, bahkan dengan berbagai penyesuaian mulai dari pemanfaatan tenda darurat, penguatan peran guru dan orang tua, hingga dukungan konkret dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui program Senam Anak Indonesia Hebat (SAIH), Makan Bergizi Gratis (MBG), dan pembagian School Kit.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti melakukan kunjungan kerja ke Aceh pada tanggal 28–30 Januari 2026, di mana ia meninjau berbagai sekolah terdampak bencana, meresmikan revitalisasi 76 satuan pendidikan, serta menerima audiensi dengan para kepala sekolah untuk mendengar langsung kebutuhan dalam proses pemulihan belajar.

SDN Karangjadi di Aceh Tengah merupakan salah satu sekolah yang terkena dampak gempa pada akhir Desember lalu. Sebagian ruang kelas mengalami kerusakan, namun kegiatan belajar-mengajar tidak dihentikan. Kepala sekolah M. Gazali menjelaskan bahwa pembelajaran untuk kelas 1 dan 2 SD dialihkan ke tenda darurat yang disediakan Kemendikdasmen, sementara kelas lainnya yang kondisinya masih baik tetap berjalan normal.

“Pasca gempa, beberapa bangunan mengalami retak, sehingga kami takut kelas akan roboh. Namun, pembelajaran tidak kami hentikan. Yang terpenting, anak-anak tetap datang ke sekolah dan merasa didampingi,” ujar Gazali di sela-sela audiensi dengan Mendikdasmen pada Kamis (30/1).

Keberlangsungan pembelajaran tersebut didukung oleh kolaborasi erat antara sekolah, guru, dan orang tua. Sejak masa awal pemulihan, guru-guru secara aktif memberikan motivasi, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, dan memastikan anak-anak merasa aman secara psikologis. Gazali juga menambahkan bahwa siswa sangat antusias dengan program MBG yang menjadi salah satu daya tarik mereka untuk kembali ke sekolah.

“Setiap istirahat pertama, para siswa mendapatkan MBG dan mereka makan dengan lahap sampai habis. Pendekatan ini sangat krusial, terutama bagi siswa yang sempat mengalami ketakutan dan trauma akibat bencana,” jelasnya.

Di wilayah lereng Gunung Merapi, TK Negeri Iwan Tona menghadapi tantangan ganda: kerusakan bangunan akibat gempa dan trauma psikologis yang menyertai anak-anak usia dini. Kepala Sekolah Nova Mulyani menginisiasi inovasi pembelajaran melalui program guru tamu, di mana guru dari kecamatan lain datang bergantian untuk menghibur dan mengajar siswa.

“Anak-anak ini kan masih kecil. Mereka sempat takut masuk kelas lagi. Kami peluk dan bujuk mereka, perlahan keberanian mereka pun kembali muncul. MBG juga menjadi salah satu pemicu anak-anak mau kembali ke sekolah, bahkan mereka minta porsinya ditambah. Ini bukan hanya soal makanan, tetapi soal rasa aman dan alasan untuk kembali belajar,” tuturnya dengan emosi terharu.

Kisah inspiratif juga datang dari SMPM 11 Teritit, yang wilayahnya sempat terisolasi akibat terputusnya akses jalan selama hampir tiga pekan. Kepala sekolah Habsah menyampaikan bahwa pendekatan awal untuk mengembalikan suasana pembelajaran lebih menitikberatkan pada pemulihan emosional siswa ketimbang mengejar materi pelajaran.

“Kami tidak langsung fokus pada pembelajaran akademik. Yang pertama kami lakukan adalah merangkul anak-anak, memvalidasi kesedihan mereka, mengajak bernyanyi, dan melakukan SAIH untuk mencairkan suasana serta mengalihkan rasa trauma agar mereka bisa kembali tertawa,” jelasnya.

Selain memberikan bantuan awal untuk operasional sekolah, Mendikdasmen Abdul Mu’ti juga secara langsung membagikan School Kit kepada para siswa yang hadir, sekaligus memberikan motivasi agar mereka tetap bersemangat dalam proses pemulihan.

“Anak-anak harus tetap semangat. Ada ruang kelas yang sedang diperbaiki, ada gedung yang sedang dibangun, ada juga yang belajar di ruang kelas darurat dan di tenda. Tapi, yang penting kita semua harus semangat,” tegas Menteri saat mengunjungi salah satu sekolah terdampak.

Kemendikdasmen terus mendorong percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi sarana pendidikan, termasuk perbaikan ruang kelas, penyediaan mebeler, serta pemenuhan fasilitas pembelajaran yang layak dan aman bagi seluruh siswa di daerah terdampak bencana.

Di tengah berbagai keterbatasan pascabencana, praktik pembelajaran yang berlangsung di Aceh menunjukkan bahwa pendidikan tetap menyala terang. Hal ini tidak hanya karena bangunan sekolah telah pulih, tetapi lebih karena anak-anak dijaga dengan baik, guru hadir dengan sepenuh hati, dan negara berdiri bersama setiap sekolah untuk memastikan masa depan generasi muda tetap semangat.

Tim Schoolmedia 


Artikel Selanjutnya
Rektor UGM Melepas Keberangkatan Tim Mahasiswa KKN PPM Peduli Bencana ke Aceh
Artikel Sebelumnya
Harapan Baru Pendidikan di Aceh: 114 Sekolah Rusak Terdampak Bencana di Aceh Segera Direvitalisasi

Artikel Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar