Cari

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Ingatkan Bahaya Child Grooming


Membedah Fenomena Child Grooming: Ancaman Laten di Balik Kedekatan Semu

Schoolmedia News Jakarta = Di era digital yang semakin tanpa batas, ancaman terhadap keamanan anak tidak lagi hanya datang dari kekerasan fisik yang kasatmata. Muncul sebuah fenomena manipulasi psikologis yang jauh lebih sistematis dan berbahaya, yang dikenal dengan istilah child grooming. Ini bukan sekadar tindakan kriminal spontan, melainkan sebuah proses panjang di mana pelaku membangun ikatan emosional dengan anak untuk tujuan eksploitasi seksual.

Apa Itu Child Grooming?

Secara definisi, child grooming adalah upaya yang dilakukan oleh orang dewasa untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan ikatan emosional dengan seorang anak (atau terkadang keluarga anak tersebut) sehingga mereka dapat memanipulasi, mengeksploitasi, dan melecehkan anak tersebut. Pelaku sering kali terlihat sebagai sosok yang sangat baik, penuh perhatian, dan bahkan dianggap sebagai "pahlawan" atau "kakak idaman" oleh korbannya.

Proses ini biasanya mengikuti pola yang terencana:

 * Memilih Target: Mencari anak yang terlihat kesepian, kurang perhatian, atau memiliki rasa percaya diri rendah.

 * Membangun Kepercayaan: Memberikan perhatian intensif, pujian, atau hadiah.

 * Isolasi: Mulai menjauhkan anak dari pengaruh orang tua atau teman sebaya dengan menciptakan rahasia bersama.

 * Normalisasi Seksual: Mulai memasukkan konten seksual secara perlahan melalui percakapan atau tontonan.

 * Eksploitasi: Terjadinya pelecehan seksual, baik secara fisik maupun melalui konten digital.

Peringatan Keras dari Menteri PPPA

Merespons maraknya kasus ini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, memberikan peringatan keras kepada masyarakat. Beliau menekankan bahwa child grooming adalah bentuk kejahatan yang sangat rapi dan sering kali tidak disadari oleh lingkungan terdekat korban.

Dalam siaran pers resminya, Menteri PPPA menyatakan bahwa pelaku sering kali masuk melalui celah kerentanan emosional anak. "Pelaku grooming tidak selalu orang asing. Sering kali mereka adalah orang yang sudah dikenal, bahkan memiliki posisi terhormat di lingkungan anak, seperti guru, pelatih, atau kerabat jauh. Mereka menggunakan tipu muslihat untuk menciptakan ketergantungan emosional," ungkap Menteri Arifatul.

Beliau juga mengingatkan para orang tua untuk lebih waspada terhadap perubahan perilaku anak. "Anak yang menjadi korban grooming biasanya akan menjadi lebih tertutup, memiliki rahasia yang tidak ingin dibagikan kepada orang tua, atau tiba-tiba memiliki barang-barang mewah yang tidak jelas asalnya. Komunikasi terbuka antara orang tua dan anak adalah benteng pertahanan utama," tegasnya.

Refleksi: "Lelaki yang Mencuri Duniamu" (Testimoni Aurellia Maroemas)

Sebagai bahan refleksi mendalam, narasi yang ditulis oleh Aurellia Maroemas—seorang penyinta, public figur dan aktivis yang tulisannya tengah viral—memberikan gambaran pedih tentang bagaimana grooming bekerja dari kacamata korban. Berikut adalah petikan narasi berbentuk cerpen reflektif tersebut:

"Dia datang seperti hujan di musim kemarau. Namanya Kak Bayu, sosok yang selalu punya waktu saat ayah dan ibu sibuk dengan pekerjaan mereka. Di mataku yang baru berusia dua belas tahun, dia adalah satu-satunya orang dewasa yang mengerti mengapa aku benci pelajaran matematika dan mengapa aku suka menggambar naga di sudut buku tulis.

Awalnya hanya cokelat, lalu ponsel baru, kemudian kata-kata manis yang membuatku merasa 'istimewa'. 'Ini rahasia kita ya, Lia. Orang tuamu tidak akan mengerti betapa dewasanya kamu,' katanya suatu sore. Kalimat itu adalah tembok pertama yang ia bangun untuk memisahkanku dari dunia.

 Aku merasa dicintai, hingga suatu hari kasih sayang itu berubah menjadi permintaan yang aneh. Permintaan foto tanpa busana, sentuhan-sentuhan yang membuat bulu kudukku berdiri, namun aku terlalu takut untuk menolak. Aku merasa berutang budi. Aku merasa dialah satu-satunya yang memilikiku. Aku tidak sadar, bahwa perlahan-lahan, ia sedang mencuri masa kecilku, menguliti harga diriku, dan meninggalkan lubang hitam di dadaku yang tidak akan pernah tertutup meski aku sudah beranjak dewasa."

Tulisan Aurellia menggambarkan dengan jelas bagaimana manipulasi psikologis membuat korban merasa "berdaya" padahal sedang dihancurkan. Rasa bersalah yang ditanamkan pelaku sering kali membuat korban bungkam selama bertahun-tahun.

Langkah Pencegahan dan Perlindungan

Menghadapi ancaman ini, tidak ada jalan lain selain penguatan literasi dan proteksi. Berikut adalah langkah-langkah yang harus diambil oleh masyarakat:

 * Edukasi Seksualitas Sejak Dini: Ajarkan anak tentang bagian tubuh pribadi dan konsep "sentuhan boleh serta sentuhan tidak boleh".

 * Hapus Budaya "Rahasia": Ajarkan anak bahwa tidak boleh ada rahasia antara mereka dan orang tua, terutama rahasia yang melibatkan orang dewasa lain.

 * Pantau Aktivitas Digital: Pelaku grooming modern banyak bergerak melalui media sosial dan game online. Gunakan fitur parental control namun tetap kedepankan komunikasi persuasif.

 * Validasi Perasaan Anak: Jika anak bercerita tentang keanehan perilaku seseorang, jangan langsung menyangkal atau membela orang dewasa tersebut. Dengarkan dengan empati.

Kejahatan child grooming bukan hanya masalah keluarga korban, melainkan kegagalan kolektif lingkungan dalam melindungi anak. Seperti yang ditegaskan Menteri PPPA, mari kita jadikan lingkungan kita tempat yang aman, di mana setiap anak berani bersuara dan setiap orang dewasa siap menjadi pelindung yang nyata, bukan pemangsa yang bersembunyi di balik topeng perhatian.

Penulis Eko B Harsono 


Artikel Selanjutnya
Masyarakat Diimbau Tidak Takut Periksa Gejala Penyakit Kusta
Artikel Sebelumnya
Membajak Reformasi: Alasan 'Biaya Mahal' Hanyalah Akal-akalan untuk Monopoli Kekuasaan

Artikel Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar