
Menenun Kembali Nadi Sumatera: Catatan Pemulihan dan Kewaspadaan di Ambang Tahun Baru 2026
Schoolmedia News Jakarta = Tahun Baru 2026 tidak datang dengan kembang api bagi ribuan warga di pelosok Nusantara. Di saat sebagian besar dunia merayakan pergantian kalender, ribuan personel tim gabungan, operator alat berat, dan relawan justru sedang berjibaku melawan lumpur dan beton yang hancur. Dari pegunungan Aceh yang dingin hingga lembah Jayawijaya yang terjal, potret awal tahun ini adalah tentang satu kata: Resiliensi.
Titik Terang dari Serambi Mekkah
Kabar paling melegakan datang dari ujung barat Indonesia. Provinsi Aceh, yang selama beberapa pekan terakhir lumpuh akibat terjangan banjir dan tanah longsor hebat, mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang pulih. Kamis, 1 Januari 2026, menjadi tonggak penting bagi Kementerian Pekerjaan Umum dan BNPB.
Target ambisius yang dicanangkan pada akhir Desember 2025 akhirnya membuahkan hasil. Sebanyak 12 ruas jalan nasional utama di Sumatera kini kembali fungsional. Ini bukan sekadar perbaikan aspal; ini adalah penyambungan kembali urat nadi kehidupan bagi masyarakat yang sempat terisolasi.
Akses yang menghubungkan Bireuen menuju Bener Meriah dan Aceh Tengah kini telah terbuka melalui jalur alternatif di Jembatan Weihni Enang-Enang dan Jembatan Jamu Ujung. Bagi warga Dataran Tinggi Gayo, pembukaan jalur ini adalah berkah tahun baru yang tak ternilai. Sebelum jembatan-jembatan ini difungsikan, logistik pangan dan bahan bakar sempat tersendat, menciptakan kekhawatiran akan krisis lanjutan.
Di sektor infrastruktur jembatan, keberhasilan tim di lapangan patut diacungi jempol. Sebanyak 16 jembatan yang rusak kini 100 persen telah diselesaikan. Keajaiban kecil ini terlihat di lokasi-lokasi kritis seperti Jembatan Titi Merah dan Krueng Beutong. Tak hanya itu, dari 361 titik longsoran yang mengepung Aceh, 360 titik (99,72%) telah berhasil dibersihkan. Tersisa satu titik di arah Jembatan Weihni Enang-Enang yang masih terus dikerjakan dengan penuh ketelitian.
Pemulihan Energi dan Harapan Baru
Pulihnya akses transportasi adalah kunci pembuka kotak pandora pemulihan ekonomi. Dengan terhubungnya kembali lintas timur, lintas tengah, dan lintas barat, pemerintah memproyeksikan sektor energi dan kelistrikan di daerah sulit seperti Bener Meriah dapat pulih total pada pertengahan Januari.
Namun, di balik optimisme itu, ada kewaspadaan yang tak boleh kendur. "Daya tampung saluran air dan drainase belum pulih sepenuhnya," lapor BNPB. Ketakutan akan banjir susulan tetap nyata, mengingat intensitas hujan yang belum menurun. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus dilakukan di langit Aceh, sebuah upaya sains untuk "mengatur" hujan agar proses normalisasi sungai tidak terhambat luapan air.
Sisi Lain Nusantara: Banjir yang Belum Usai
Namun, cerita Indonesia bukan hanya tentang Aceh. Laporan Puspital BNPB periode 31 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026 menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi basah masih menjadi tantangan nasional yang masif.
Di Jawa Barat, Kota Cirebon mengawali tahun dengan genangan air yang merendam pemukiman 701 kepala keluarga. Meski kini air telah surut dan warga mulai menyapu sisa lumpur dari lantai rumah mereka, trauma akan banjir mendadak masih membekas.
Kondisi lebih memprihatinkan terjadi di jantung Kalimantan. Di Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, banjir justru sedang mengganas. Sebanyak 13.392 jiwa terdampak dengan debit air yang terus merangkak naik. Di sana, Tahun Baru dilewati di atas perahu karet atau di pengungsian yang lembap. Begitu pula di Tabalong, Kalimantan Selatan, di mana 1.351 unit rumah masih terendam air setinggi 70 sentimeter.
Kabar dari Timur: Jayawijaya dalam Kepungan Longsor
Bergeser ke wilayah paling timur, Kabupaten Jayawijaya di Papua Pegunungan memberikan gambaran betapa ganasnya alam saat ini. Hujan tanpa henti memicu banjir dan tanah longsor yang memaksa 300 warga meninggalkan rumah mereka. Di tengah keterbatasan akses dan cuaca ekstrem, evakuasi terus dilakukan. Jayawijaya adalah pengingat bahwa di balik indahnya pegunungan Papua, tersimpan kerentanan yang membutuhkan perhatian serius dari pusat.
Gotong Royong: Napas Penanganan Bencana
Melihat peta bencana nasional di awal 2026 ini, satu hal yang menonjol adalah kolaborasi. Di Aceh Tengah, Bener Meriah, hingga Jayawijaya, tidak ada yang bekerja sendiri. Personel TNI, Polri, Kementerian PU, relawan lokal, dan warga bahu-membahu.
Status Tanggap Darurat yang diperpanjang di berbagai kabupaten di Aceh bukanlah tanda kegagalan, melainkan bentuk komitmen bahwa negara hadir hingga titik terakhir pemulihan. Penanganan bukan lagi sekadar memberi bantuan mi instan, melainkan membangun hunian sementara dan memastikan anak-anak bisa kembali sekolah meskipun gedung mereka rusak.
Menghadapi Puncak Musim Hujan
BNPB melalui rilis resminya mengeluarkan peringatan tegas: Puncak musim hujan belum berlalu. Tantangan ke depan bukan hanya memperbaiki jalan yang putus, tapi bagaimana menjaga agar jalan yang sudah diperbaiki tidak kembali hanyut terbawa banjir bandang.
Masyarakat diimbau untuk tidak hanya mengandalkan pemerintah. Rencana kesiapsiagaan keluargaâhal sederhana seperti menyiapkan tas siaga bencana dan memantau peringatan dini dari BPBDâbisa menjadi pembeda antara hidup dan mati.
Januari 2026 mungkin dibuka dengan kabar duka dari berbagai daerah terdampak bencana. Namun, fungsionalnya 12 jalan nasional di Sumatera dan pulihnya belasan jembatan di Aceh adalah bukti bahwa dengan kerja keras dan koordinasi yang tepat, luka akibat bencana bisa disembuhkan. Indonesia sedang menenun kembali nadinya, satu kilometer aspal dan satu bentang jembatan pada satu waktu.
Tim Schoolmedia
Tinggalkan Komentar